Tulisan

Cerita tentang Body Shaming yang Saya Alami

Siapa yang tidak mengenal istilah body shaming? Akhir-akhir ini marak dibahas karena perbuatan mengomentari/mencela penampilan fisik terhadap oran lain maupun diri sendiri mendapatkan ancaman pidana bagi siapapun yang melakukannya. Body shaming tidak dapat dianggap ringan, karena ini bisa mengganggu psikologis seseorang hingga menjadi insecure terhadap dirinya sendiri. Perbuatan ini dapat membuat seseorang malu, depresi, hingga mungkin berujung bunuh diri.

‘kan cuma bercanda’

Bercanda tidak lagi lucu jika menyakiti perasaan orang lain. Seorang remaja Thailand bunuh diri dengan melompat dari lantai 5 gedung sekolahnya diduga karena tak tahan diejek gendut oleh teman-temannya. Alangkah baiknya jika sesama manusia menahan diri mengomentari fisik orang lain.  Alangkah baiknya jika sesama manusia menghargai perasaan orang lain tanpa harus menyebut-nyebut kekurangan yang dimiliki. Setiap manusia punya kekurangan. Bukankah kau pun demikian?

Saya, seorang ibu rumah tangga yang memiliki 2 anak kecil, yang sedang menyusui, tak juga luput dari tindakan body shaming. Kata-kata ‘gendut, dan gemuk’ sudah sering saya dengar selama ini. Saya awalnya menganggap itu hanya sebagai basa-basi dari orang lain karena tidak ada bahan pembicaraan ketika berjumpa, namun lama kelamaan saya tak lagi menganggap ini sebuah lelucon yang dapat dilupakan. Saya sakit hati. Tersinggung. Betapa mudahnya orang melontarkan komentar mengenai penampilan fisik saya seraya tersenyum dan tertawa, seakan-akan ini sebuah candaan yang lucu. Tidak. Tidak sama sekali lucu.

‘kok gitu aja baper?’

Setiap orang itu beda-beda. Ada yang mungkin biasa saja dicela fisiknya, ada yang sakit hati dan menangis, ada yang cuek, dan sebagainya. Ada yang sensitif, dan ada juga yang tidak. Jika memang semuanya sama, maka tidak mungkin ada kejadian bunuh diri di dunia ini. Semua orang tak memiliki kemampuan menghadapi masalah yang sama.

Jujur, setiap kali ada yang mengomentari fisik saya, entah itu dari keluarga, kerabat, teman atau orang terdekat, saya tidak akan melupakannya. Kata-kata itu akan terus membekas di kepala saya. Dan saya akan lebih tidak percaya diri lagi dengan diri saya sendiri. Saya malas melihat cermin. Saya malas menimbang berat badan. Saya malas membeli baju, karena saya yakin baju itu tidak akan cukup di badan saya. Saya jadi membenci diri saya sendiri.

Kau tak pernah tahu bahwa candaanmu akan meninggalkan dampak sedemikian rupa terhadap seseorang. Candaan yang kau kira akan mudah dilupakan. Basa basi belaka.

Beberapa pekan lalu, saya mulai rutin berolahraga. Saya mulai mengurangi karbo, dan menambah protein, sayur, dan buah. Saya melakukan jogging, renang, dan olahraga rutin berupa work out di rumah. Saya mulai ketagihan berolahraga. Namun suatu ketika kata-kata ‘gendut’ itu menghantui lagi pikiran saya. Kata-kata ‘gendut’ itu terlontar lagi dari orang lain terhadap saya.

‘gendut.’

Saya mulai jatuh lagi. Mulai merasa insecure lagi dengan diri sendiri. Merasa usaha saya sia-sia.

Saya jadi mudah tersinggung lagi.

Kau tak pernah tahu bahwa omonganmu akan meninggalkan dampak sedemikian rupa terhadap seseorang. Omongan yang kau kira akan mudah dilupakan. Namun tak pernah dapat dilupakan.

Saya kini jadi malas berolahraga lagi. Saya semakin menyalahkan diri sendiri.

Merasa tidak adil.

Puncaknya kemarin malam saya menangis lagi. Suami saya seakan lelah melihat saya stres seperti ini. Namun baiknya ia tetap mendengarkan keluh kesahku, ia tetap menghapus airmataku, dan tetap menghiburku seperti biasanya.

“mereka berkata seperti itu, karena mereka tidak tahu keseharian kamu seperti apa, mereka tidak tahu usahamu seperti apa setiap hari.” kata-kata suami selalu menyejukkan hati. “Buatku, kamu adalah perempuan yang hebat. Ibu yang hebat.”

Begitu terharunya saya sampai untuk beberapa saat saya lupa menangis karena apa. Saya kemudian tersadar, ada yang lebih penting yang harus saya urus dan saya pikirkan.

Mulai sekarang saya bertekad, saya tidak akan pernah mendengarkan omongan orang lain lagi terhadap penampilan fisik saya. Saya bertekad tidak akan peduli. Pun saya tidak akan peduli dengan saran, nasehat, dan pendapat mereka. Saya hanya akan menyibukkan diri saya sesibuk mungkin sehingga tidak akan sempat saya mendengarkan omongan orang lain.

Walau begitu tindakan body shaming tetap tidak dapat dibenarkan.

Namun saya memilih mengalah.

Keterbatasan saya membuat saya tidak dapat berbuat apa-apa.

Saya akan menyayangi diri saya, dan menerima apapun kekurangan yang telah Allah beri untuk saya, sebagai pelengkap hidup saya sendiri.

 

 

 

 

Note : saya juga minta maaf terhadap teman-teman, atau siapapun yang pernah tersinggung dan sakit hati karena saya. Jika saya pernah mencela fisik dan penampilan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya tidak akan bersembunyi dari alasan ‘manusia tempatnya salah’, tidak, manusia dibekali akal dan pikiran. Kesalahan murni karena saya sendiri.

 

 

Leave a Reply

Required fields are marked*