catatanbundabia
Tulisan

Jadi seorang Ibu itu…

Jadi seorang ibu itu, sulit. Sulit karena kehidupanmu akan menjadi sangat berbeda dari sebelum kamu memiliki anak. Kau akan memikul tanggung jawab yang sangat berat. Anakmu bukanlah seorang boneka yang bisa kau mainkan, dan kau biarkan usang di dalam lemari karena kau sudah bosan memainkannya. Anakmu adalah makhluk hidup yang dalam dirinya mengalir darahmu, dagingmu, serta mungkin sifat-sifatmu. Anakmu adalah sebuah kanvas putih bersih yang menunggu untuk kau beri warna. Apakah kau akan memberinya warna-warna yang indah? ataukah warna-warna suram yang tak memiliki arti. Kau, seorang ibu, adalah pelukis yang berperan besar menentukan keindahannya.

Jadi seorang ibu itu, harus kuat. Kuat dalam arti harfiah dan kiasan. Kuat menggendong anakmu kesana kemari karena belum bisa berjalan. Kuat untuk membuatkan makanan untuk anakmu meskipun kau sedang sakit. Kuat mengurusi buah hatimu yang sedang masa-masanya ingin merangkak kesana kemari, namun kau juga harus mengurus kebutuhan lain di rumah. Juga kau harus kuat menutup telinga rapat-rapat untuk setiap omongan orang-orang yang bisa menyulut amarah, dan menusuk hatimu yang rapuh. Kau harus kuat ketika suatu hari anakmu dibanding-bandingkan dengan anak orang lain, hingga disepelekan. Kau harus kuat tersenyum disaat orang-orang mengkritisi dan menghakimi caramu mendidik anak, memanjakan anak, bahkan sampai kritik mengapa kau membiarkan anakmu terus menghisap jempolnya karena itu tidak baik kata mereka, namun mereka tak tahu kau sudah mencoba cara-cara yang mereka sarankan. Kau sadar kau tak bisa mengubah sifat buruk orang. Karena kau sadar sungguh membuang-buang waktu untuk memikirkan semua itu sepanjang hari. Hingga biarlah airmata itu terjatuh dengan sendirinya. Biarlah kau memendamnya dan coba melupakan semua itu.

Jadi seorang ibu itu, harus sabar. Membesarkan anak titipan Allah itu bukanlah perkara mudah. Tentu semua juga tahu. Namun terkadang orang lupa dan tidak menyadarinya. Menjadi seorang ibu yang sepanjang hari mengurus buah hatinya di rumah, juga sulit. Kau jarang memiliki waktu untuk hanya sekedar menyaksikan 1 episode serial kesukaanmu, atau hanya sekedar mendengarkan musik favoritmu yang dulu sering sekali kau putar sebelum menikah. Atau bahkan hanya sekedar mandi, dengan tenang, tanpa gangguan, tanpa ada yang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, seraya berkata, “ma, aku ingin pup.”. Jadi seorang ibu harus sabar sepanjang hari. Kau juga mungkin akan jarang merias dirimu sendiri. Alat-alat make up berserakan di atas meja. Bukan, bukan karena kau sering memakainya, namun karena anakmu menjadikan lipstik, bedak, dan kawan-kawannya itu sebagai mainan. Hingga kau mendapati lipstikmu rusak, maskara rusak, dan semuanya rusak karena anakmu antusias mencobanya, entah bagaimana ceritanya. Kau akan menghela nafasmu. Mau marah percuma. Mau membeli lagi juga sayang uangnya. Kau hanya tersenyum sambil meringis dalam hati.

Jadi Ibu itu, harus belajar tidak peduli. Ya, belajar untuk tidak peduli terhadap komentar orang-orang yang selalu mengkritik penampilanmu yang tak seperti dulu, dari mulai fisik hingga caramu berbusana. Kau sadar kini kau sudah memiliki anak, kau kini lebih mementingkan untuk memakai busana yang praktis, nyaman, dan mudah dipakai. Kau tak mau mendengar celotehan orang lain. Pun tak peduli komentar orang-orang terhadap badanmu yang semakin melebar. Yang kau pedulikan hanya suamimu yang selalu mencintaimu terlepas dari bagaimanapun rupa dan fisikmu.

Karena bagimu, yang terpenting adalah anak-anak. Yang terpenting mereka tak kekurangan makan, kekurangan pakaian, kurang kasih sayang, dan selalu bahagia. Selelah dan seletih apapun dirimu, ketika kau melihat mereka tertawa, tersenyum, dan memelukmu, kau tahu kau adalah perempuan yang paling penting, perempuan paling cantik, perempuan yang serba bisa, perempuan yang paling berani, paling kuat, paling bisa segalanya, dan sempurna

…..di mata anak-anakmu.

Maka cukuplah itu bagimu.

Cukuplah itu untuk membuatmu bahagia.

Membuatmu selalu bersyukur atas segala apapun di dunia ini.

Jadi seorang ibu itu, ibadah. Kau hanya mengharap pahala dari Tuhanmu saja, kau tidak berharap sanjungan dari orang lain. Biarlah Tuhanmu saja menilai bagaimana kau membesarkan titipan-Nya, merawat titipan-Nya, menjaga titipan-Nya dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Tak perlulah kau memedulikan omongan orang yang membuatmu gusar, dan membuatmu tidak bersyukur. Pandanglah sepasang mata kecil yang selalu memandangmu dengan penuh kekaguman dan cinta.

Mereka yang selalu mencintaimu sampai kapanpun.

Mereka yang selalu siap menjagamu, dan mengasihimu di hari tua nanti.

Mereka yang di dalam dirinya terdapat darahmu, dagingmu, dan mungkin juga sifat-sifatmu.

Mereka adalah segalanya yang terindah di dunia ini

 

Maka hapuslah airmatamu

 

Kau adalah Aku.

 

 

Leave a Reply

Required fields are marked*