Pregnancy and Birth Story

Cerita Persalinan Anak Kedua

Ketika kamu sudah berusaha dan berdoa, namun Allah berkehendak lain

yakinlah bahwa itu adalah jalan yang terbaik bagi kamu 

Ungkapan itu seakan menampar saya secara perlahan namun sakit. Ya, bagaimana tidak, 2 minggu yang lalu tepatnya tanggal 18 Januari, saya menangis tersedu-sedu di sebuah rumah sakit, karena mendengar “vonis” dari dokter kandungan yang saya pilih. Vonis itu adalah bahwasanya saya kemungkinan tidak dapat melahirkan normal alias vaginal birth, dikarenakan letak bayi masih jauh dari panggul, padahal usia kehamilan saya saat itu adalah sudah mau menginjak 40 minggu.

“kalau kondisinya seperti ini, mungkin perlu waktu 3 minggu lagi kurang lebih sampai bayinya turun ke panggul.” kata dokter tersebut. Saya yakin dokter tersebut juga menginginkan saya dapat melahirkan normal, karena memang sepanjang kehamilan tidak ada masalah yang berarti. Belum lagi saya punya modal tulang panggul yang bagus, yang pernah di cek ketika hamil anak pertama oleh seorang dokter kandungan di rumah sakit lain.

Apa yang membuat saya menangis tersedu-sedu seperti itu?

3,5 tahun yang lalu, saya melahirkan Sabia melalui operasi c-section atau caesar, dikarenakan posisi bayi yang sungsang, dan tidak menambahnya pembukaan serviks sementara ketuban sudah mengucur deras. Tidak ada pilihan lain saat itu kecuali caesar. Saya tidak mau egois, saya menginginkan anak saya dan pula saya sehat dan selamat. 3,5 tahun sebenarnya cukup bagi seorang wanita yang dulunya melahirkan secara caesar untuk bisa melahirkan lewat jalan lahir yang natural. Bisa. Saya sudah bertanya dan membaca dari berbagai sumber. Tidak selamanya lahiran caesar itu harus caesar lagi selanjutnya, tidak. Bahkan menurut pengalaman dokter kandungan saya, beliau pernah menangani kasus ibu melahirkan normal setelah 1,5 tahun melahirkan caesar. dan anaknya sehat. 1,5 tahun lho! Saya jadi merasa sangat percaya diri.

Entah mengapa bagi saya caesar itu sangat menakutkan. Sungguh. Ya memang saya belum pernah punya pengalaman vaginal birth, namun pengalaman melahirkan Bia 3,5 tahun yang lalu itu seakan menakuti saya sampai saat itu. Caesar itu sakit. Tidak, maksud saya setelah caesar itu sakit. Operasinya sih tidak, sama sekali tidak. Tapi setelahnya itu lho. Butuh waktu berminggu-minggu lamanya sampai akhirnya saya tidak merasakan cenat-cenut lagi di bagian rahim? atau jahitan? entahlah. Yang jelas selama seminggu setelah melahirkan caesar, saya belum bisa duduk dan berjalan dengan nyaman.

Pertimbangan kedua adalah, saya kasihan dengan Bia. Jika saya harus melahirkan melalui operasi lagi, otomatis pemulihannya pun lebih lama. Dan saya tidak mau meninggalkan Bia lama. Sehari pun saya tidak pernah berpisah dengan Bia. Maka dari itu saya sangat menginginkan dapat melahirkan secara normal, agar segera bisa bermain lagi dengan Bia.

Banyak usaha yang saya lakukan agar keinginan saya tersebut tercapai. Saya rajin berjalan, olahraga di gym ball, jogging, senam hamil, renang, dan menanamkan sugesti positif setiap harinya bahwa saya bisa melahirkan normal! Tidak lupa juga saya berdoa selalu. Saya meminta doa ke banyak orang. Saya meminta doa ke ibu saya, yang bagi saya adalah yang paling mustajab. Semua sudah saya lakukan. Namun pada akhirnya saya serahkan pada Allah, biarlah Allah yang menilai apakah ikhtiar saya sudah cukup atau kurang. Hanya Allah yang tahu.

Sampai usia kehamilan 38 minggu itu tidak ada masalah. Paling “hanya” bayinya yang belum masuk panggul. Oh dan juga saya sudah merasakan kontraksi yang cukup teratur, namun belum keluar flek. Saya sempat masuk IGD karena merasa kontraksinya sudah teratur, meski tidak mules, hanya perut kencang sekali dan membuat saya tidak nyaman untuk bergerak. Namun setelah di cek oleh suster, ternyata belum ada pembukaan, dan setelah di cek CTG (Cardiotograph) , yang saya rasakan hanya baru kontraksi palsu. Oke, saya dan suami pun pulang dengan agak kecewa.

Berdoa dan berusaha.

Sampai akhirnya tanggal 18 Januari lalu, dokter mengatakan bahwa ketuban saya sudah sedikit. Plasenta pun sudah mulai pengapuran. Sementara bayi belum turun panggul. Masih jauh.

Yang bisa dilakukan saya saat itu hanya menangis. Ya, menangis di depan Dokter Widyastuti, dokter kandungan terbaik menurut saya. Beliau menyerahkan pilihannya kepada kami berdua, saya dan suami. Apakah masih keukeuh mau melahirkan normal? atau mau memilih caesar saja? Sebab jika masih mau melahirkan normal, kira-kira butuh waktu sekitar 3 minggu lagi sampai bayinya mau turun. Dan itu berisiko, karena ketubannya sudah sedikit, dan plasentanya sudah mulai pengapuran.

Saya memutuskan untuk memilih cara yang menurut saya terbaik bagi saya dan bayi.

“dok, saya mau caesar saja.”

Jika sudah memang harus seperti itu, kenapa harus menunggu lama? Maka saya pun melanjutkan. “Kalau hari ini bisa (operasinya)?”

Dokter pun menyarankan agar operasi dilaksanakan besok di pagi hari. Entah, mungkin hari itu dokter sudah banyak sekali jadwal yang menanti. Pasiennya banyak sekali. Kemudian Saya dan suami diminta mengisi form berlembar-lembar oleh staf rumah sakit. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan airmata saya, rasanya saya masih ingin menangis dan tidak peduli terhadap banyak pasang mata yang memandang saya dengan penuh tanda tanya. Saya masih kecewa. Saya sudah berusaha, tapi kok hasilnya seperti ini lagi?

Saya ingat suami saya kala itu berkata pada saya kurang lebih seperti ini, “sudah bun, kita tuh sudah enak. hamil lancar, ga ada masalah, ditemenin suami terus, lahiran udah ga perlu mikir biaya, kalau toh harus lahirannya caesar ya gapapa. masa mau serakah pengen semuanya?”

Iya sih. Serakah banget ya. Tapi meskipun sudah diceramahi begitu, saya baru benar-benar bisa berhenti menangis saat melihat Bia sepulangnya kami dari rumah sakit. Saya tidak boleh menunjukkan wajah sedih di depannya. Saya hanya bilang padanya kalau adiknya besok pagi akan lahir. Dan dia senang sekali. Meskipun setelah itu, malam harinya, saya harus tersedu-sedu lagi saat berpamitan pada Bia yang sudah nyenyak tidur. Ya, saya dan suami pergi ke rumah sakit pukul 12 malam, karena operasi akan dilaksanakan pada pagi harinya. Setelah check in, saya dan suami pergi ke kamar rawat. Kemudian jam 2, saya dipanggil ke ruang kebidanan untuk di CTG, dan saya juga mulai berpuasa. Jam 3 saya dan suami kembali ke kamar rawat untuk istirahat. Tapi ternyata saya tidak bisa tidur. Saya baru bisa tidur sekitar jam 4, dan terbangun lagi jam 5. Setelah mandi, saya didatangi suster untuk disuntik alergi dan infus.

www.catatanbundabia.com
cek detak jantung dan kontraksi sebelum tindakan caesar pagi harinya
www.catatanbundabia.com
karena nervous, saya hanya bisa tidur satu jam saja

Suntik alergi adalah semacam mimpi buruk bagi saya. Sakitnya bukan main. Saya sempat teriak teriak menahan sakit. Setelah itu saya dibawa ke ruang operasi dengan menggunakan kursi roda. Dengan mata yang sembab, saya diminta untuk berganti baju operasi. Dan ini menurut saya saat-saat yang paling membuat sedih. Suami saya tidak boleh masuk ke ruang operasi, berbeda ketika melahirkan Bia 3 tahun yang lalu. Karena beda rumah sakit, beda pula peraturannya. Di rumah sakit ini suami tidak boleh menemani ke ruang operasi. Padahal itulah yang paling menenangkan saya. Alhasil di ruang operasi saya sempat sesak nafas. Saya tidak bisa bernafas! mungkin karena terlalu panik. Akhirnya setelah diberikan oksigen, saya pun mulai agak tenang dan bisa kembali bernafas. Operasi berjalan dengan sangat lancar. Adiknya Bia lahir hanya dalam belasan menit kemudian. Tangisannya kencang sekali. Dan saya pun ikut menangis. Alhamdulillah Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Anak keduaku lahir dengan selamat dan sehat.

www.catatanbundabia.com
pemandangan indah sesaat sebelum operasi c-section yang diambil dari ruang rawat inap

Pasca operasi adalah saat-saat yang paling tidak saya sukai. Dengan kateter yang masih terpasang, saya harus mulai belajar memiringkan badan ke kanan dan ke kiri. Mengangkat kaki perlahan. Seharian pun saya hanya bisa tidur telentang tak berdaya, dengan makan hanya semangkuk bubur sumsum. ASI masih sangat sedikit, sementara bayi sudah menangis kencang karena lapar. Saya ingat pernah membaca bahwa Bayi baru lahir memiliki cadangan lemak yang membuatnya bisa bertahan sampai dengan 3 hari tanpa ASI. Tapi ya sedih juga kan kalau bayi nangis sementara saya saat itu tidak dapat berbuat apa-apa karena hanya bisa tidur. Maka dari itu saya berusaha sebisa saya agar cepat pulih dan bisa memberikan hak ASI bagi anak saya yang baru lahir.

Hari kedua saya sudah bisa duduk, dan lepas kateter. Namun perjuangan belum berakhir. Karena ketika sudah lepas kateter, berarti saya harus sudah bisa jalan ke kamar mandi untuk buang air kecil sendiri. Dibantu suami, saya pun belajar jalan dengan tertatih-tatih dan bungkuk. Saat itu saya hanya ingin sekali memeluk suami saya dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya padanya. Beliau sudah sangat banyak membantu saya selama 9 bulan lebih ini, beliau sudah berkorban banyak, entah bagaimana cara saya bisa membalas kebaikan-kebaikannya selama ini. Bukannya saya yang harusnya mengucapkan terima kasih, malah suami saya duluan yang mengucapkan terima kasihnya pada saya. Terima kasih karena sudah melahirkan anak kami berdua. Entahlah, bagi saya, suami sayalah justru yang paling berjasa selama kehamilan-kehamilan saya karena sudah sangat baik menemani saya, menghibur saya, merawat, dan mau berkorban banyak untuk kesehatan saya dan anaknya.

Rasanya sampai sekarang saya masih sangat berutang padanya. Mudah-mudahan beliau diberikan kesehatan, dan perlindungan dari Allah.

Sekarang, 2 minggu lebih setelah operasi, saya sudah bisa berjalan dengan lancar, meski terkadang nyut-nyutan masih terasa, tapi saya maklum. Melihat anak sehat membuat saya lupa sementara dengan sakit yang dirasa. Melihat kakaknya juga ceria membantu saya agar bisa pulih dengan cepat. Melihat suami saya bermain dengan anak-anak membuat saya merasa sangat bahagia. Merekalah salah satu alasan mengapa saya harus selalu bersyukur dengan apapun yang diberikan Allah pada saya. Bersyukur dengan apapun yang Allah pilihkan untuk saya.

Meski untuk selanjutnya saya sudah tidak bisa lagi melahirkan normal, saya tetap bersyukur.

Terima kasih ya Allah, yang Maha Baik.

Selamat datang ke dunia, Shanum,

Kamu terlahir di keluarga yang penuh dengan cinta.

www.catatanbundabia.com
Shanum, anak perempuan kedua kami sesaat setelah lahir

 

 

2 Comments

  1. Selamat, ya, Mbak. Semoga sehat selalu untuk semuanya 🙂

    1. aamiin
      terima kasih mbak 😀

Leave a Reply

Required fields are marked*