catatanbundabia.com
Tulisan

Curahan Hati Seorang Ibu yang Melahirkan secara Caesar

Kemarin, saya membaca artikel mengenai seorang wanita di China yang bunuh diri karena ditentang oleh keluarganya untuk melahirkan secara caesar. Kabarnya wanita itu meminta untuk melahirkan secara caesar karena kepala bayi yang dikandung terlalu besar. Tak kuat merasa sakit, sang wanita itu mendesak keluarganya untuk dapat mengijinkannya caesar, namun keluarga menolak karena merasa ia bisa melahirkan normal. Meski wanita itu sudah berlutut, namun ternyata keluarga tidak mengijinkannya. Disana kabarnya dokter tidak bisa berbuat banyak, jika memang dari keluarga pasien tidak memberikan ijin. Apa yang terjadi kemudian? Sang wanita tersebut lompat dari lantai 5 rumah sakit. Ia dan bayi dalam kandungannya meninggal tak bisa terselamatkan.

melahirkan caesar - catatanbundabia
seorang wanita di China bunuh diri dengan melompat dari lantai 5 RS, setelah keinginannya untuk melahirkan caesar ditolak oleh keluarganya (cr : international.sindonews.com)

Saya berusaha tidak mempercayai adanya cerita ini, tapi ternyata benar terjadi. Saya tidak habis pikir. Mudah-mudahan saya tidak salah membaca.

Banyak juga ibu-ibu diluaran sana yang menganggap sebelah mata pada wanita yang melahirkan secara  caesar. Mereka anggap operasi caesar adalah cara melahirkan untuk ibu-ibu yang manja yang takut merasa sakit.  Melahirkan caesar itu tidak hebat, mereka pikir. Melahirkan caesar itu belum membuat seorang wanita menjadi wanita yang seutuhnya, yang sempurna. Bagi mereka, melahirkan alami alias normal adalah cara melahirkan yang benar, karena melalui perjuangan dan rasa sakit yang luar biasa.

seorang ibu yang membuat tulisan di fb tentang pandangannya soal melahirkan caesar(cr : detik.com)

Ada juga saya pernah menyaksikan video seorang ahli agama yang dengan lantangnya menyebutkan bahwa Ibu yang melahirkan caesar itu terkena gangguan jin dan setan di perutnya. Saat mendengar itu saya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.

Saat hamil anak pertama 3 tahun yang lalu, saya tidak menyangka saya akan melahirkan anak saya melalui tindakan operasi. Saya ingin melahirkan normal, seperti ibu dan kakak-kakak saya. Ditambah lagi saat dokter memeriksa panggul, dokter mengatakan tulang panggul saya bagus, sehingga bisa melahirkan normal.

Selama 2 trimester, saya rutin mengikuti renang. Mencoba melenturkan otot-otot, dan melatih pernapasan untuk melahirkan kelak agar bisa melahirkan dengan lancar tanpa rasa sakit. Namun memasuki trimester akhir, saya harus menelan kekecewaan karena bayi saya sungsang, padahal sudah 32 minggu, bayi sudah besar sehingga mungkin agak sulit untuk dapat memutar ke posisi yang benar. Namun saya tidak menyerah. Saya ingin dapat melahirkan normal. Saya mencoba semua saran-saran dari orang-orang dan dari info-info yang saya dapat di internet.

sering-sering nungging, katanya.

sering ngepel jongkok, katanya.

sering-sering menyalakan senter di perut, agar bayi dapat bergerak mengikuti cahaya tersebut, katanya.

ah dan lain-lain yang kini saya bahkan sudah lupa.

Saya coba semuanya. Demi dapat melahirkan normal. Saat itu meski saya ingin bisa melahirkan normal, namun saya tidak membenci caesar. Saya hanya ingin berusaha terlebih dahulu.

Tapi, sehabis kontrol rutin ke dokter, saya selalu menangis. Karena ternyata usaha saya belum juga berhasil. Sampai 38 minggu, bayinya masih sungsang, dan ukurannya sudah besar. Tapi saya masih belum mau menyerah. Hingga akhirnya minggu selanjutnya, dokter menyatakan saya sudah bukaan kedua, dalam keadaan posisi bayi masih sungsang.

Entah mengapa saat itu kekecewaan saya mereda perlahan. Sebentar lagi saya akan bertemu dengan anak saya. Entah mengapa itu membuat saya melupakan sejenak kekecewaan saya.

Saya hanya ingin melihat bayi ini. Saya ingin melihat anak ini lahir ke dunia, dengan selamat dan sehat. Pikiran saya kala itu hanya demikian.

Hingga akhirnya ketuban saya pecah, dan saya langsung bergegas ke rumah sakit. Meski air ketuban sudah mengucur tak terhenti bak air keran, ternyata bukaan saya tidak menambah sedikitpun. dari terakhir di cek. Saya pun mantap menjawab, “saya mau melahirkan caesar.”

(Baca juga : Cerita kelahiran Bia)

operasi caesar - catatanbundabia
Bia sehabis ditarik keluar dari rahim melalui operasi caesar

Memang betul, melahirkan caesar itu tidak sakit, tidak sama sekali, karena kami memang dibius lokal, sehingga tahu-tahu bayi sudah diangkat oleh dokter dari dalam rahim. Prosesnya pun tidak lama, mungkin hanya butuh waktu sekitar 20 menit. Tapi, bukan berarti kami tidak akan merasa sakit sedikitpun. Rasa sakit dimulai ketika kami sudah mulai bisa menggerakan kaki, yang artinya obat bius sudah berkurang. Area sekitar rahim mulai terasa nyut-nyutan. Pengalaman saya adalah puncak tersakitnya ketika saya dipindahkan dari tempat tidur operasi untuk menuju ke ruang rawat.

Dan tahukah? jahitan caesar yang masih basah dan terasa itu harus ditekan oleh perawat sesampainya saya di ruang rawat. Ditekan oleh tangan, untuk mengetahui ada pendarahan di dalam atau tidak. Rasa sakitnya seperti apa? wah yang jelas saya teriak-teriak. Luka yang masih basah itu harus ditekan-tekan. Selepas operasi itu saya hanya bisa teriak dan menangis. Suami saya hanya bisa menatap saya dengan iba, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Hari berikutnya saya belajar memiringkan badan di kasur. Oh ya, saya juga dipasangkan kateter untuk buang air kecil, sehingga jangan tanya rasanya seperti apa. Linu bukan main! Tapi saya tetap harus belajar memiringkan badan ke kanan dan ke kiri agar mempercepat pemulihan.

Hari berikutnya, kateter dilepas. Saat dilepas pun ngilu sekali. Dan itu berarti untuk buang air kecil saya harus berjalan sendiri ke kamar mandi. Yap, dalam keadaan duduk pun masih susah, apalagi jalan. Tapi seharian itu saya belajar duduk, dan turun dari kasur. Berjalan dengan tertatih-tatih dibantu oleh sang suami menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil. Kala itu cara berjalan saya seperti robot, karena bekas jahitan masih nyut-nyutan sakit. Tapi saya tetap berusaha, karena saya ingin cepat sembuh dan pulang ke rumah.

Hari berikutnya, saya mulai lancar berjalan, meski masih terlihat seperti robot dan tetap dituntun oleh suami. Tapi luka operasi sudah mulai membaik. Hari itu saya sudah mulai ceria karena ASI sudah keluar banyak, dan saya bisa menyusui anak saya.

Hari berikutnya saya sudah boleh pulang ke rumah bersama suami dan anak saya.

Apakah sakitnya sudah hilang? Belum. Sampai seminggu saya masih merasa sakit di jahitan. Dari posisi tidur ke bangun saja perlu sekuat tenaga. Perlu waktu sampai berbulan-bulan sampai akhirnya luka jahitan tidak terasa linu-linu lagi.

Saya bangga saya sudah melewati masa-masa itu. Saya tak mengira saya bisa sekuat itu mengalahkan rasa sakit hari demi hari pasca operasi.

Bagi saya, keselamatan bayi ini dan saya sendiri sebagai ibunya adalah yang paling penting. Saya tidak mau memaksakan. Saya bahkan tidak peduli orang mau bicara apa. Alhamdulillah nya saya didukung oleh keluarga, sehingga saya dapat melahirkan dengan tenang dan bahagia.

Biarkan sang ibu dan si anak dalam kandungan yang memilih persalinannya mau seperti apa. Karena mereka yang menjalani ini semua. Mungkin semua wanita pun ingin melahirkan dengan lancar dan tanpa masalah, tapi tidak semuanya diberikan rejeki seperti itu. Tidak semua wanita diberikan kemudahan dan kelancaran dalam persalinannya.

Ada yang melahirkan normal tanpa rasa sakit, ada yang melahirkan normal dengan penuh perjuangan dan sakit yang luar biasa.

Ada yang melahirkan caesar tanpa meninggalkan sakit, ada yang melahirkan caesar namun meninggalkan rasa nyeri dan pemulihan yang lebih lama.

Bagi saya proses melahirkan seperti apapun, yang terpenting Ibu dan Anak sehat dan selamat. Karena melahirkan hanyalah sebuah gerbang awal, masih banyak lagi proses yang harus dilalui sang ibu hingga akhir hayatnya; menyusui, menyapih, mengajarinya banyak hal, mendidik, menyekolahkan, membesarkan anak menjadi anak yang selalu memberikan kebahagiaan untuk orangtuanya.

3 Comments

  1. I feel you Bunda Bia
    Saat itu saya juga berusaha semaksimal mungkin untuk lahiran normal di Bidan karena saya merasa Bidan lah yang paling pro dengan persalinan normal. Tapi Allah berkehendak lain, bu Bidan nyerah dan merujuk saya ke RS. Saya menangis. Alhamdulillahnya saya dan bayi sehat meski akhirnya lahiran caesar.
    Dan benar, saat tetangga, teman bahkan keluarga datang menjenguk, mereka dengan entengnya mencibir, yang saya manja lah, takut sakit lah, ngenakin suami lah, bla bla bla.
    Semoga orang-orang seperti itu mendapat hidayah ya.

    Koq jadi curcol hehehe. Salam kenal ya

    1. yang terpenting kesehatan ibu dan anaknya yah
      rasanya juga gemes tiap denger komentar miring orang-orang soal lahiran caesar
      tapi lama-lama udah kebal hehe.. mereka bisa nyinyir kaya gitu karena mereka ga pernah merasakan
      jadinya tidak akan mengerti perasaan kita-kita yg caesar yah haha
      salam kenal juga ya mbak, makasih sudah membaca 🙂

  2. Sebagai suami saya sangat wow sekali ketika istri melahirkan, pasti sakit sekali. Kalau mau program anak pun diserahkan pada istri. Punya anak satu pun cukuplah asal semua bahagia.

Leave a Reply

Required fields are marked*