My Pregnancy Story - catatanbundabia
Pregnancy and Birth Story

My Pregnancy Story : Trimester 1

Alhamdulillah, akhirnya saya diberikan kesempatan untuk hamil lagi, setelah setahun yang lalu sempat keguguran di usia kehamilan 10 minggu. Alhamdulillah. Rasanya bahagia banget, karena memang udah kepengen, dan Bia juga sudah cukup besar dan saya rasa sudah pantas menjadi kakak. Berbeda dengan setahun yang lalu, kehamilan sekarang sudah saya persiapkan, walau tidak semua, karena memang saya dan suami semula akan memulai program hamil sehabis Lebaran, tapi ternyata pertengahan Mei lalu saya sudah dinyatakan positif hamil! yay!

Flashback sebelum ketahuan hamil, sebenarnya saya memutuskan untuk membeli tespek sebelum telat datang bulan. Jujur bingung banget, ngapain ya beli tespek? tapi entah kenapa saya tiba-tiba aja minta tolong suami untuk beli tespek hari itu juga. Tiba-tiba. Udah feeling apa ya? tapi engga juga. Aneh. Skip skip.

Hari itu juga tiba-tiba kakak saya memberitahu saya kalau beliau semalam memimpikan mendiang ayah saya. Dalam mimpinya Ayah saya membawa anak kecil yang disebut-sebutnya adalah anak saya. Kakak saya merasa perlu menceritakan mimpi itu kepada saya, siapa tahu itu adalah suatu pertanda. Saya jujur orangnya tidak begitu percaya mimpi, namun jika itu adalah mimpi yang baik, maka itu datangnya dari Allah.

Habis itu besok paginya sehabis bangun tidur, saya cek urin saya dengan alat tespek. Agak lama saya menunggu. Dan ternyata hasilnya negatif. Satu garis. Oh well. Berarti memang belum rejekinya. Lagian juga saya belum telat datang bulan, ngapain juga udah di tespek. Akhirnya saya buang si tespek, dan ngasih tau suami kalau hasilnya negatif. Saya dan suami sih sebenarnya tidak yang kecewa banget, karena udah feeling hasilnya akan seperti itu. Tapi entah mengapa, dan apa yang mendorong saya, hingga saya kembali mengambil hasil tespek yang sudah saya buang di tempat sampah. Saya mengambilnya kembali untuk mengecek. Ternyata hasilnya menjadi :  DUA GARIS!

*Jeng jeng jeng!!!*

noh john cena aja sampe bingung

Saya mengerjapkan mata. Eh beneran serius positif? Tapi saya tidak mau buru-buru percaya. Dulu juga pernah kaya gini. Dulu waktu Bia usia 6 bulan, saya pernah positif 2 garis juga. dan yang lucu adalah, saya menggunakan 2 tespek dan dua-duanya menunjukkan garis positif! Kaget banget saya saat itu, soalnya Bia masih 6 bulan, masih nyusu, masih ketergantungan saya. Akhirnya setelah bermewek-mewek ria, saya membeli 2 tespek yang agak mahal. Kemudian setelah di cek, NEGATIP! sebel kan? jadi kualitas tespek juga mempengaruhi lho. Kalau mau tespek usahakan beli yang bagus deh, paling mahal. Insya Allah hasilnya juga akan akurat. Bener aja, habis itu selang beberapa hari saya pun datang bulan. Kebayang ga sih gimana sedihnya wanita diluar sana yang sangat berharap hamil tapi di-PHP in sama tespeknya kaya saya? Jadi tips nya adalah : PAKAI TESPEK YANG PALING BAGUS!

Skip skip. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk mendatangi dokter. Sebenarnya bukan untuk konsul kehamilan, melainkan untuk periksa fissura ani yang saya derita selama 1 bulan lamanya. Fissura Ani adalah robekan pada anus yang menyebabkan rasa nyeri ketika buang air besar. Sakiiiittt banget rasanya, rasanya seperti ada yang robek terus tiap buang air besar. Nah saat itu saya menyampaikan juga ke dokter kalau saya kemungkinan hamil (karena tespek positif), jadi bagaimana jika harus ada tindakan bedah untuk menyembuhkan fisura ani yang saya derita? Dokter menyarankan saya udah tespek dulu di laboratorium. Saya pun menyetujui saran dokter, dan melakukan tespek ke lab.

Setelah menunggu lama, akhirnya saya mendapatkan hasil tespek nya. Ternyata betul, Positif! saya memang benar-benar sedang hamil. Saya kembali lagi ke ruangan dokter. Dokter merujuk saya ke dokter bedah untuk pengobatan lebih lanjut. Namun dokter tersebut mengatakan fissura ani tidak selalu harus dibedah, jika masih bisa ditangani, salep dari dokter pun sudah cukup. Saya dan suami lega. Kami pun berangkat ke dokter bedah atas rujukan dokter. Sesampainya disana, saya hanya diberikan salep saja, karena sepertinya fissura ani nya masih bisa ditangani. Belum terlalu parah. Oke, saya lega sekali hari itu.

Karena sudah percaya saya sedang hamil, saya dan suami berencana konsul ke dokter kandungan. Setelah menunggu sangat lama, saya pun dipanggil. Saya diminta berbaring dan dokter mulai memeriksa rahim saya melalui alat USG. Hmm. Belum terlihat apa-apa. Dokter pun tidak bisa menyimpulkan saya sudah hamil atau belum. Namun dalam rahim saya sudah ada penebalan, kurang lebih itu adalah ciri cirinya. Saya diberikan vitamin. Dan dokter menyarankan 2 minggu lagi untuk kembali periksa USG. Dari tanggal haid terakhir, sepertinya saya sudah hamil usia kandungan 4 minggu.

yaaaay! I’m officially pregnant!

Sesampainya di rumah, saya mulai lelah. Sedikit aktivitas saja sudah membuat saya lelah bukan main. Saya memutuskan untuk bed rest. Hari-hari berikutnya saya mulai merasa tidak enak makan. Terutama nasi putih. Sehabis menyantap nasi putih, saya akan langsung sangat mual seperti ingin muntah. Dan ternyata roti-rotian, dan makanan lain pun membuat saya ingin muntah. Sehingga suami membeli banyak sekali buah-buahan agar nutrisi saya tetap tercukupi, meski hanya makan sedikit. Dari situ mulai timbul keinginan-keinginan kuat untuk menyantap makanan tertentu. Inikah yang disebut ngidam? Karena sewaktu hamil Bia dulu, saya tidak pernah mengidam, dan tidak ada mual-mual. Makan apapun tidak ada masalah. Tapi setiap kehamilan mungkin beda beda ya?

Memasuki minggu ke-10, saya kontrol lagi ke dokter kandungan. Alhamdulillah suami juga bisa mengantar dan menemani, sehingga saya tidak sendiri di ruang tunggu. Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya dokternya datang juga. Telat 1 jam. Padahal saya dapat antrian nomor 2. Tapi ya sudahlah, mungkin dokternya sehabis mengambil tindakan terhadap pasien lain. Kebetulan dokter ini lumayan populer juga di review para ibu-ibu, jadi mungkin pasiennya banyak sekali. Tapi kok… agak galak yah dokternya? Ini kunjungan pertama kalinya saya ke dokter kandungan tersebut. Baru masuk aja saya udah ga betah hehe. Saya memang masih gonta-ganti mencari dokter lain di rumah sakit lain. So far saya sangat cocok sekali dengan Dokter Elise, Dokter yang menangani saya saat melahirkan Bia dan kuret, namun karena Hayati lelah mengantri lama (karena pasiennya banyakkkkk sekali, pernah saya menunggu dari pagi sampai sore), akhirnya mencari lagi dokter lain di rumah sakit yang berbeda. Tapi setelah saya mencoba kontrol ke dokter lain, ternyata belum menemukan yang cocok lagi. Cocok-cocokan sih ya. Skip. Skip. Walau agak bete karena dokter yang baru ini agak galak, tapi ya sudahlah yang penting saya mau periksa kondisi si utun dulu. Dokter memeriksa dengan alat USG. Agak lama sampai akhirnya ia berkata,

“ini hamil kembar ya?”

Eh?!! ke-kembar?? sik sik, gimana ceritanya bisa kembar, dok? Saya langsung menatap layar monitor. Disitu memang terlihat seperti ada 2 kantong janin. Namun 1 kantung terlihat kosong, sementara kantong sebelahnya berisi janin. Dokter belum bisa menyimpulkan apakah benar saya hamil kembar tapi janin yang satu belum terlihat, atau memang salah satu kantung memang kosong (Blighted Ovum). Tapi masa sih? sudah berapa kali saya cek USG kayanya yang terlihat hanya 1 kantung saja. Tapi ya Allah saya bahagia banget kalau sampai kembar. Suami juga nampak berbinar-binar bahagia.

Sayangnya dokter yang tidak akan saya sebutkan namanya tersebut lupa untuk mencetak foto USG. Sehingga saya keluar ruangan dengan tangan kosong. Sepertinya saya harus mencari opsi dokter lain. Setelah mencari-cari di internet, akhirnya muncullah nama Dokter Widyastuti yang banyak di review positif para netizen ibu-ibu. Setelah membaca-baca dan akhirnya mantap,  4 minggu setelahnya, saya pun memutuskan untuk selanjutnya kontrol kehamilan kepada beliau. Sama dengan sebelumnya, dokternya telat juga. Dengar-dengar sih beliau memang praktek di banyak tempat, sehingga mungkin telat karena itu. Dan kemudian setelah menunggu 1 jam, beliau datang juga. Skip. Akhirnya saya dipanggil. Kesan pertama, dokternya ramah banget, dan suka becanda. Saat memeriksa dengan USG pun beliau menerangkan dengan rinci. Dari kepala sampai kaki janin, dari tinggi sampai berat janin. Kemudian akhirnya rasa penasaran saya selama sebulan pun terjawab sudah. Saya tidak jadi hamil kembar. Karena ternyata hanya ada 1 kantung dan 1 janin yang terlihat. Saya tidak tahu mengapa, namun yang jelas bayi saya sehat, dan itu sudah sangat cukup. Dan sepertinya kontrol selanjutnya saya akan datang kembali kepada beliau.

pregnancy story - catatanbundabia.com
Foto USG 14 minggu, sudah nampak jelas janin dari kepala sampai kaki

Trimester 1 dilalui dengan lancar, walau agak lebih berat karena saya merasakan lebih mual, lebih peka terhadap bau-bauan, lebih picky terhadap makanan, dan juga lebih sensi. Namun Alhamdulillah suami selalu setia mendukung, membantu, dan siaga hihihi.  Alhamdulillah  juga tidak ada masalah serius yang terjadi. Semoga trimester selanjutnya lebih lancar lagi, dan bayinya selalu sehat! aamiiin.

 

 

Leave a Reply

Required fields are marked*