catatanbundabia.com
Catatan, Parenting

Selamat Bertambah Usia, Bia

Setiap tanggal 26 Juli, Sabia bertambah usianya. Semakin bertambah besar, bertambah pintar, dan banyak tingkahnya. Saya tidak akan berkata klasik seperti “duh ga kerasa ya anakku udah 3 tahun” nope. Karena 3 tahun itu tidak singkat. Dan saya tidak merasa 3 tahun itu sangat cepat. Apalagi saya fulltime mengasuhnya 24 jam, sehingga saya menyadari 3 tahun itu bukanlah waktu yang singkat. Namun juga tidak begitu terasa lama.

(Baca juga : Cerita ketika mengandung Sabia)

Bia semakin mewarnai kehidupan saya sehari-hari. Ditambah lagi sekarang dia sudah masuk sekolah, sehingga saya bisa merasakan bagaimana sibuknya ibu-ibu yang menyiapkan sarapan untuk keluarga di pagi hari, menyiapkan baju dan perlengkapan, serta memikirkan bekal apa yang akan dibawa ke sekolah. Setiap hari kini jadi semakin seru dan challenging.

Sudah setengah tahun Bia bersekolah. Semakin lama ia semakin terbiasa karenanya. Saya jadi ingat pertama kalinya saya dan suami mengambil rapot laporan dari guru tentang Bia di 1 semester dua bulan yang lalu. Diam-diam malam harinya saya merasa cemas, deg-degan, dan khawatir, akan seperti apa laporan yang saya terima keesokan harinya. Tentu saja tidak akan ada angka merah dan ranking di dalam buku rapotnya. Dan bukan itu yang saya cemaskan. Saya hanya cemas bagaimana laporan guru dan psikolognya tentang Bia di sekolah. Apakah ada yang harus saya perbaiki? apakah saya selama ini ada salah mendidiknya? Apakah Bia pernah berkata sesuatu pada gurunya tentang saya? Apakah Bia tidak suka dengan ayah ibunya? Pertanyaan-pertanyaan berlebihan itu menyesakkan pikiran saya. Ini pertama kalinya saya akan menerima rapot anak saya. Dan ya, saya cemas.

Sesampainya di sekolah, saya dan suami diminta menunggu sebentar, karena gurunya sedang melayani orangtua murid yang lain. Saya semakin gugup. Apakah ibu-ibu lain merasakan kecemasan yang saya rasakan ketika mau menerima rapot anaknya? ataukah hanya saya saja yang bersikap berlebihan? Akhirnya tiba waktunya saya dan suami dipanggil masuk ke ruangan kelas. Saya dan suami duduk di kursi yang telah disediakan. Saya menghela nafas. Saya sudah siap akan laporan seperti apa yang kami dengar nanti.

(Baca juga : Cerita Kelahiran Sabia)

Gurunya Bia, sambil tersenyum, mengatakan bahwa Sabia anak yang baik. beliau jarang sekali melihat dia menangis di sekolah. Ia anak yang suka mengalah, meskipun mainannya direbut oleh teman-temannya, ia tidak akan menangis. Ia pun suka menasehati temannya jika berbuat salah. Bia memiliki banyak teman, dan pandai bergaul.

Airmata saya hampir saja menetes. Ternyata yang saya takutkan dan cemaskan tidak pernah terjadi. Terharu sekali mendengarnya. Saya merasa anak saya sudah besar, sudah dewasa untuk seusianya. Bia memang sedari dulu suka mengalah pada saudara dan teman sebayanya. Ia tidak akan menangis jika apa yang sedang dia pegang direbut oleh orang lain. Atau ia juga tidak akan langsung menangis ketika terjatuh. Saya dan suami sepakat untuk diam mengawasi saja, dan membiarkan ia menyelesaikan masalahnya sendiri. Terkadang saya takut cara kami selama ini salah. Namun Alhamdulillah mendengar laporan dari gurunya Bia, kami yakin bahwa kami sudah berusaha dengan baik dalam mendidik Bia, selama ini. Mungkin belum bisa dibilang baik, jauh dari baik, tapi sudah cukup. Perjalanan kami masih panjang. Semoga kedepannya kami semakin kompak dan lebih baik lagi dalam mendidik anak-anak kami kedepannya, agar bisa menjadi manusia yang baik dunia dan akhirat.

Untuk Bia, nak, Bunda akan selalu bangga sama kamu. Kamulah semangat ayah bunda setiap hari. Kamulah salah satu alasan kenapa bunda tidak pernah menyesal berkarir di rumah tangga. Kamulah salah satu alasan mengapa Bunda belajar membuat kue-kue, dan berkreasi dengan masakan di dapur. Kamulah salah satu alasan kenapa bunda tidak mau sakit, dan selalu ingin cepat sembuh jika sampai jatuh sakit. Kamulah hiburan ayah bunda setiap hari. Kamulah salah satu nama yang tak pernah absen ada di sujud terakhir Bunda.

Jadilah anak yang selalu bersabar, dan bersyukur.

Melihat kamu tersenyum, mendengar kamu tertawa, sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. Semoga hidupmu selalu penuh dengan kebahagiaan…

 

 

Leave a Reply

Required fields are marked*