Tulisan

Pelajaran yang Dapat Diambil dari Kasus Plagiarisme Afi Nihaya Faradisa

Dunia maya akhir-akhir ini diributkan oleh kasus plagiarisme yang menimpa seorang Penulis muda bernama Afi Nihaya Faradisa, yang seringkali mencurahkan tulisannya di media sosial Facebook. Bernama asli Asa Firda Inayah, seorang pelajar SMA yang berasal dari Banyuwangi ini menggemparkan khalayak dengan tulisan-tulisannya yang tak biasa untuk ukuran seorang pelajar SMA berusia 18 tahun. Pemikirannya digadang-gadang seperti orang yang sudah berusia 30 tahun keatas. Tulisan-tulisan banyak di share dan disukai oleh warganet. Namun yang menjadi sangat viral adalah tulisannya yang menuai kontroversi, yang berjudul WARISAN.

Saya tidak akan membahas tulisannya yang membawa ia ke hadapan orang nomor 1 di Indonesia tersebut, melainkan ingin membahas tentang kasus plagiarisme yang menimpa dirinya. Sebelum tulisan yang bertajuk WARISAN sangat viral di media sosialnya, saya sudah banyak membaca tulisan-tulisannya yang dimuat di laman facebooknya. Jujur saja, saya sangat menggemari tulisan-tulisannya. Saya menyukai perbendaharaan kata nya yang luas yang hanya bisa dipelajari oleh orang yang gemar membaca. Ini membuat saya ingin kembali membaca buku. Pemikirannya sangat dewasa untuk seusianya. Bahasannya yang seringkali sensitif, namun dapat disampaikannya dengan baik, meski menuai pro dan kontra. Saya sempat tak percaya ada pelajar SMA yang bisa menulis seperti itu. Dan bukan saya saja, tapi banyak orang yang berpikiran sama.

Tulisannya telah mengantarkan ia ke Istana Negara untuk berjumpa dengan Orang nomor 1 di negeri ini (sumber : hype.idntimes.com)

Namun,

Di tengah euforia yang sedang ia rasakan, kini ia harus menghadapi cemoohan dan bully-an masyarakat terhadap tulisan di facebooknya yang bertajuk Belas Kasih dalam Agama Kita. Tulisan itu disebut-sebut mem-plagiat tulisan orang lain yang sudah lebih dulu dipublikasikan di media sosialnya. Namun isu itu ditepisnya. Ia tidak merasa mem-plagiat karya orang lain. Publik dibuat bingung. Yang mana yang benar? Orang-orang saling serang, yang pro dan kontra saling berdebat. Kemudian tak lama akhirnya sang penulis asli melakukan klarifikasi di media sosialnya, bahwa tulisan yang dimuat oleh Afi itu adalah benar tulisannya sendiri, yang sudah ia tulis satu tahun yang lalu. Dengan kata lain, Afi, ternyata memang benar mem-plagiat. Cemoohan demi cemoohan membanjiri media sosial pelajar SMA tersebut. Mereka merasa ditipu oleh seorang bocah SMA. Mereka merasa ia tak pantas untuk diundang oleh Presiden ke Istana, dan tak pantas untuk diundang ke berbagai talkshow dan kampus-kampus. Masyarakat semakin marah ketika mengetahui yang diduga plagiat oleh Afi ini tak hanya 1, melainkan lebih.

(Baca juga : Fenomena Bully di Media Sosial)

Pada akhirnya Afi meminta maaf. Ia menuliskan “permohonan maaf” nya di sosial media. Ia mengakui bahwa ia “mengutip” tulisan orang lain di facebooknya. Ia mengakui itu bukan karyanya. Meski begitu publik merasa belum puas. Karena permohonan maaf nya dinilai kurang cukup.

plagiarisme afi nihaya - catatanbundabia
Tulisan Afi yang ternyata hasil Copy Paste tulisan orang lain (sumber : voa-islam.com)

Saya memang termasuk orang yang kecewa terhadap tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh Afi ini. Ia adalah calon penulis yang berbakat, perjalanannya masih panjang, namun harus diterpa kasus yang mencoreng namanya yang baru muncul ke permukaan. Dengan begini, untuk selanjutnya akan banyak yang meragukan tulisannya. Cap Plagiat akan selalu melekat di dalam dirinya. Sanksi sosial ini sangatlah berat untuk seorang pelajar SMA seperti dia. Semoga ia dapat melaluinya dengan baik, dan yang terpenting semoga ia dapat belajar dari pengalamannya yang sangat berharga ini untuk kedepannya.

Untuk orang yang senang menulis seperti saya, kasus Afi ini adalah pelajaran bagi saya. Betapa pentingnya mencantumkan nama penulis ketika mau mengutip atau meng-copy paste tulisan orang lain. Sungguh, menulis itu tidaklah mudah. Bagi saya, tulisan adalah gambaran perasaan. Saya tidak akan dapat menulis tanpa merasa. Saya bahkan tak jarang menulis sambil menitikkan air mata. Karena kata demi kata mewakili apa yang saya rasakan, apa yang sedang saya pikirkan. Perihal tulisan itu dibaca orang lain atau tidak, bukan menjadi masalah. Yang terpenting saya sudah menumpahkan isi pikiran saya. Jadi saya rasa setiap tulisan itu memiliki ‘ruh’ penulisnya.

Penulis pemula yang memiliki banyak sekali pengikut di sosial medianya, Afi mungkin merasa terbebani. Saya sangat setuju dengan klarifikasi Mita Handayani, penulis yang di-plagiati tulisannya oleh Afi, ia mengatakan bahwa Afi terbebani tugas moral. Afi merasa harus selalu menginspirasi pembacanya, dan itu tidaklah mudah. Orang-orang sudah terlanjur menyanjungnya setinggi langit, memuji-mujinya seakan-akan tidak pernah ada penulis muda yang sepintar ia di negeri ini. Ia terbebani. Disaat yang sama Ia pun terlena. Sehingga ia mencari tulisan orang lain yang dinilai bagus dan sesuai dengan kondisi di tanah air untuk dapat memuaskan dahaga para pembaca setianya. Kesalahan terbesarnya adalah ia selalu menambahkan logo copyright di setiap tulisannya, seakan-akan tulisan itu murni atas pemikirannya sendiri, murni karyanya sendiri. Dan ini pada akhirnya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.

Yang dilakukan oleh Afi adalah salah. Tapi bukan berarti kita sebagai masyarakat dapat terus menghujaninya dengan hujatan dan cacian yang tak berbatas. Ia masih muda, perlu dibimbing. Bukan dijatuhkan, bukan dimatikan. Apalagi saya lihat banyak sekali yang sampai menghina fisik, bagi saya itu sudah sangat diluar batas. Betul dia telah berbuat salah. Tapi lebih baik doakan saja agar ia dapat belajar dari kejadian yang menimpanya ini. Bimbinglah. Jangan dimatikan.

Saya memang tak semuanya setuju dengan tulisan-tulisannya. Namun harus diakui dia telah banyak menulis tulisan-tulisan yang baik sebelum ia terkenal sampai sekarang. Bisa dilihat di laman facebooknya, jauh sebelum kejadian ini, ada banyak sekali tulisannya yang bagus dan membuka pikiran. Tak sedikit ada orang yang terinspirasi dan termotivasi lewat tulisan-tulisannya. Tetapi, kita hidup di jaman dimana seberapa banyak pun kau berbuat baik, seberapa banyak pun kau berkarya, sekali kau melakukan kesalahan, orang hanya akan selalu mengingat kesalahanmu.

Kendati demikian, teruslah berkarya. teruslah menulis. Menulis adalah bekerja untuk keabadian, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Pramoedya Ananta Toer.

sumber : quotefancy.com
[Btw, soal tulisan WARISAN, saya kurang setuju dengan dia. Karena bagi saya keyakinan yang saya anut merupakan pilihan saya sendiri, meski sejak lahir diturunkan oleh orangtua. Tetapi, manusia diciptakan akal dan pikiran untuk dapat berpikir, bukan?]

 

3 Comments

  1. Akhirnya ada yang menuliskan tentang ini. Saya juga setuju Mba, sayang banget dia mengambil contoh yang salah dalam membuat tulisan-tulisannya dan sayang banget dia tersandung plagiarisme. Padahal, kalau terus latihan menulis, lama-lama dia bisa punya ciri khas penulisan sendiri ya :).

    Btw, saya juga tidak setuju dengan tulisan tentang warisan hehehe.

    Salam kenal,
    Putri

    1. Iya, sayang sekali dia harus melakukan plagiat karya orang lain, dan yang paling saya sayangkan adalah permintaan maafnya yang terdengar masih melakukan pembenaran atas tindakannya. Padahal tulisannya sendiri bagus-bagus, meski kadang tak sepaham, tapi saya jadi terinspirasi berkat membaca tulisannya 🙂

      iya hihi tulisan yang satu itu memang sangat sensitif yah..

      salam kenal ya.. terima kasih sudah berkunjung 🙂

  2. Saya jg dlu sering copas tapi sekarang ngga dong,

Leave a Reply

Required fields are marked*