Parenting, Tips

4 Cara Ampuh dalam Mengatasi Tantrum pada Anak

Pernahkah mengalami kejadian saat anak anda meluapkan emosinya dengan mengamuk, berteriak-teriak, menangis, menjerit, bahkan memukul dan melempar benda di sekitarnya? Bisa jadi anak anda sedang mengalami temper tantrum atau yang lebih dikenal dengan istilah tantrum. Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, berteriak, menjerit, membangkang, dan marah tak terkendali. Tantrum biasanya dijumpai pada anak-anak dari usia 1-4 tahun. Penyebabnya sendiri adalah karena tidak terpenuhinya keinginan si anak, dan juga ketidakmampuan anak dalam mengekspresikan keinginannya.

Usia anak saya, Bia, saat ini sudah mau menginjak 3 tahun. Saya sudah “akrab” dengan Tantrum nya yang sewaktu-waktu dapat muncul. Betul, seringkali tantrumnya itu muncul ketika ia tidak mendapatkan yang diinginkannya. Jika sudah begitu, maka ia akan menangis dan berteriak-teriak. Seringkali juga saya melihat ia menendang-nendang barang yang di sekitarnya, juga menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras sambil berteriak. Apa yang seharusnya saya lakukan?

(Baca juga : Akhir Perjuangan Toilet Training)

Saya dan suami punya peraturan di rumah, bahwa Bia boleh menonton dan memainkan HP hanya di hari Sabtu dan Minggu, selain itu tidak boleh. Namun dasar anak kecil, Hari Senin nya pun ia tetap ingin menonton di HP, dan jika saya tidak mengijinkannya, ia akan menangis frustasi. Tapi saya pantang mengabulkan permintaannya ketika ia sedang menangis, karena jika begitu, maka ia akan menggunakan “senjata” itu berulang kali. Ia akan menangis agar permintaannya dipenuhi. Ia tahu jika menangis, Ibunya akan iba dan akan mengabulkan keinginannya.

Oh no. saya tidak pernah seperti itu. Dan saya tidak mau membiasakan anak saya seperti itu.

Bagaimana cara ampuh saya dalam menghadapi anak ketika tantrum?

1. Tetap tenang

Biasanya saya akan diam sambil menatap anak saya yang sedang mengamuk. Namun saya juga akan menyingkirkan barang-barang yang bisa dilempar dan dibanting olehnya.

2. Menunggunya hingga selesai

Saya akan menunggu hingga anak saya capek. Tapi biasanya sih jika sudah lama saya akan berkata padanya dengan pelan, “Bia, kalau sudah capek nangis berhenti yah.” 

3. Alihkan Perhatian

Agar amukannya mereda, bunda bisa mengalihkan perhatiannya seperti, “nanti kalau sudah selesai nangisnya, kita minum susu yuk di dapur.” atau “kalau sudah capek nangis, kita menggambar di kertas yuk.”

3. Peluk

Jika tangisannya belum juga mereda, maka peluklah. Peluk. Saya biasanya langsung memeluknya dengan erat sambil mengusap-usap punggungnya. Ia mungkin akan meronta-ronta, namun akhirnya menyerah juga. Ia akan menangis dipelukan ibundanya. Nah jika sudah begitu, saya tinggal akan mengarahkannya. Memberikan alasan dan penjelasaan mengapa Ibunya tidak memenuhi permintaannya. Teruslah peluk sampai ia tenang.

Seringkali cara ini berhasil, namun juga akan gagal jika sang Ibu tidak sabar.

Yang terpenting memang harus sabar, dan ini yang masih saya belajar sampai sekarang. Semakin anak besar, semakin bertambah pintar, semakin juga menggemaskan. Oleh karena itu kesabaran juga butuh di upgrade.

Kesimpulannya, jika si buah hati tiba-tiba tantrum, tetaplah tenang dan sabar. Singkirkanlah benda-benda yang bisa dilemparnya, tunggulah sampai tangisnya mereda, alihkan perhatiannya, dan jika tidak juga mereda, peluklah dengan erat sampai ia tenang. Jangan sekalipun menyerah dan mengabulkan keinginannya, karena ia akan menjadikan amukannya itu sebagai senjata. Tetaplah konsisten, Kerjasama dengan sang Ayah sangat diperlukan.

Semoga bermanfaat! 🙂

 

3 Comments

  1. Boleh neh tipsnya, kebetulan ponakan sering banget tantrum

    1. Hehe iyaa terima kasih sudah berkunjung 🙂

  2. tantrum itu seperti apa ya mbak …:)

Leave a Reply

Required fields are marked*