catatanbundabia.com
Tulisan

Fenomena Bully di Media Sosial

Belakangan ini saya dibuat geleng-geleng kepala terhadap isu yang sempat hangat kemarin-kemarin. Ya, isu tentang seorang aktris papan atas indonesia yang di bully oleh warganet di berbagai media sosial. Aktris itu menjadi bulan-bulanan media terkait 1 video yang diunggahnya, yang tak lama kemudian dihapus. Aktris tersebut dalam rekaman video terlihat menepis tangan penggemarnya yang tiba-tiba saja, tanpa sengaja, memegang anggota tubuhnya dengan ekspresi yang kurang enak. Sepintas, saya tidak merasa ada yang salah dalam video itu, secara pribadi. Karena toh siapa sih yang suka anggota tubuhnya dipegang secara tiba-tiba dari belakang oleh orang asing? Namun ternyata orang-orang beranggapan lain. Banyak sekali yang mencibir dan mem-bully dengan kata-kata yang tidak pantas terhadap aktris tersebut. Saya memang bukanlah penggemar berat dari aktris tersebut, meski saya juga mem-follow akun media sosial nya. Tapi saya tidak habis pikir terhadap komentar orang-orang begitu pedasnya terhadap orang lain, padahal mereka sama sekali tidak mengenal orang yang mereka caci. tidak. mereka tidak mengenalnya sama sekali. Tapi kenapa mereka dapat dengan mudah menghakimi seseorang hanya dari video beberapa detik saja?

(Baca juga : Ditolong karena Menolong)

Saya pernah membaca tulisan orang di satu media sosial, bahwa hidup seorang manusia itu merupakan suatu rangkaian film yang amat panjang. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa film ini ‘buruk’ jika hanya melihat dari cuplikan film nya beberapa detik saja? Sama hal nya dengan bagaimana kita bisa menghakimi seseorang itu ‘jelek’ hanya dari video berdurasi beberapa detik saja? Kita tidak pernah tahu kapan Allah akan memberikan hidayah-Nya bagi manusia. Pun kita tidak pernah tahu apa isi hati orang lain.

Sungguh, diri ini juga bahkan tak lebih baik dari yang sedang membaca ini.

Saya, juga termasuk orang yang senang melihat-lihat akun infotainment di medsos. Ah, tidak mau berpura-pura lah. Siapa sih yang tidak suka? Sekarang untuk mengetahui kabar yang sedang viral atau ramai dibicarakan, tidak melulu harus menonton televisi atau membaca surat kabar. Cukup mengikuti akun berita atau akun infotainment di media sosial, maka voila! anda akan menjadi orang yang update dan tidak ketinggalan berita. Ada berita yang membahagiakan, berita duka, berita perselingkuhan, perceraian, mulai dari artis ibukota, sampai orang biasa yang sedang viral. Awalnya saya hanya penasaran, kemudian melihat-lihat, kemudian ketagihan. Tanpa sadar waktu terbuang sia-sia. Hanyut dalam rentetan informasi yang sedang ramai dibicarakan di tanah air, yang entah itu fakta, atau hanya sekedar gosip belaka.

Mata saya kemudian tertuju pada kolom komentar. Disana orang-orang bebas berkomentar, sebebas-bebasnya. Misal jika ada berita tentang perselingkuhan, maka sumpah serapah dan cacian akan membanjiri kolom komentar. Tak jarang mereka juga ikut menuliskan nama akun artis atau orang yang sedang viral tersebut, sehingga orang yang diberitakan bisa melihat dan membaca apa yang orang-orang katakan tentang dirinya.

“dasar pela***!”

“perebut suami orang!”

“dasar laki-laki gob***!”

“janda gatel!”

Dan banyak lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Ada bahkan yang mencaci sembari menuliskan kata-kata tidak senonoh seperti alat kelamin atau kata-kata vulgar lainnya. Saya meringis dalam hati, karena melihat orang-orang begitu mudahnya mem-bully orang lain terhadap apa yang bahkan tidak bisa mereka pastikan kebenarannya. Perihal berita itu benar atau salah, mereka tidak begitu mempersoalkannya. Mereka tetap mencaci, menyumpah, mencela, dan mudah terprovokasi oleh ucapan media. Mereka meluapkan kemarahannya pada orang yang tidak mereka kenali dan hanya tahu dari media semata. Namun begitu mudahnya melontarkan celaan dan makian kasar seolah-olah orang yang mereka benci tersebut telah melakukan tindakan kriminal yang tak ada ampun terhadap mereka dan keluarganya. Tidak. Orang yang mereka bully tersebut bahkan tidak tahu dengan keberadaan mereka.

(Baca juga : Mereka yang Selalu Merindu Tuhannya)

Pernahkah kita membayangkan ada di posisi mereka? di-bully, dimaki tanpa ampun, dicaci dari berbagai celah, dipojokkan, bahkan keluarga kita pun ikut terkena imbasnya? Hidup itu bagaikan roda yang berputar. Mengapa kita begitu percaya diri akan selamanya berada di atas sementara roda dapat sewaktu-waktu berputar ke bawah?

Jika manusia berbuat salah, maka itu menjadi urusan dia dengan Tuhannya. Jika manusia difitnah salah, maka kita telah meringankan dosa-dosanya dengan menggunjing dan menuduhnya.

“Ghibah itu lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya: “Bagaimana ghibah lebih keras dari zina, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Alloh pun mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Allah, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.” (HR. Baihaqi)

Bisa jadi orang yang sering kita gunjingkan itu adalah lebih baik derajatnya di hadapan Allah. Bisa jadi setelah mereka berbuat kesalahan, mereka meminta ampunan-Nya. Mereka bertobat. Dan Allah mengampuninya. Hingga yang tersisa hanyalah kita yang sibuk sendiri menghujat dan mem-bully mereka dengan bebas dan seenaknya, tanpa kita sadari, kita lah yang sebenarnya merugi.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri sendiri, yang juga masih sering tergoda untuk menggunjing dan mem-bully orang lain baik sadar maupun secara tak sadar.

“Kalau seandainya dosa itu memiliki bau, maka tidak seorangpun dari kalian yang akan duduk denganku”. – Muhammad bin Waasi

5 Comments

  1. What an Inspiring blog post! Blog post ini bisa menjadi pengingat bagi saya (dan semoga buat semua pembaca-pembacanya) untuk menghindari ghibah dan lebih berhati-hati lagi dalam mengomentari sesuatu di media sosial..

    1. Terima kasih kak, senang sekali jika bermanfaat

  2. Jadi pengingat buat kita yang masih suka ghibah dan bully, ternyata dosanya tidak cuma ke Allah tapi juga kepada orang yang dibully ya 🙁

    1. Betul, tanpa sadar itu adalah dosa yang tidak terasa oleh kita 🙁

  3. bagaimana jika yg dibully bahkan dighibah tidak mengampuni?astagfirullah serem y mba. Terkadang ghibah emang enak banget sampe2 lidah ini ga ada berat2nya komentarin orang sampe lupa diri ini juga punya kekurangan.

Leave a Reply

Required fields are marked*