Parenting, Tips

Akhir Perjuangan Toilet Training

Alhamdulillah akhirnya saya bisa menulis ini juga. Setelah perjuangan hampir setengah tahun, akhirnya Sabia telah terbebas dari diaper alias lulus Toilet Training. Sebenarnya sudah 2 bulan yang lalu anak saya sudah bisa pipis dan buang air besar di toilet, tapi karena satu dan lain hal saya baru bisa menulisnya sekarang. Yups, 2 bulan yang lalu, tiba-tiba saja Bia menghampiri saya dengan wajah gelisah.

“Bun, bia mau pipis di toilet.”

Flashback ke bulan Juni 2016, dimana saat itu Sabia untuk pertama kalinya dengan serius mulai diajarkan untuk pipis dan pup di Toilet. Usianya kala itu memang sudah hampir 24 bulan atau 2 tahun, yang mana kata orang-orang sudah agak telat untuk dilatih ke Toilet. Kata mereka seharusnya anak mulai diajarkan Toilet Training itu usia 1,5 tahun, atau ketika anak sudah bisa berjalan, atau bahkan ada yang bilang dibawah 1 tahun. Macam-macam omongan orang. Tapi dalam hati kecil saya, saya yakin anak saya adalah anak yang pintar. Biarlah orang berkata apa, karena hanya ibu kandungnya sendiri yang paling mengetahui kondisi anaknya. Saya yakin Bia akan dapat melalui fase ini dengan baik dan lancar.

Untuk mendukung Toilet Training ini, saya pun membelikan banyak training pants, dan dudukan toilet anak bergambar kartun kesukaannya. Saya juga tak lupa berdiskusi dengan suami tentang ini. Kok serius banget yah? Karena dukungan dari si Ayah pun sangat dibutuhkan. Apa saja yang dapat dilakukan sang Ayah untuk mendukung Toilet Training ini? Pengertian! Ya, pengertian terhadap kondisi di rumah, pengertian terhadap kondisi sang Ibu, juga pengertian untuk turut membantu. Janganlah memarahi sang Ibu jika sehabis pulang kantor, rumah masih berantakan, bau pesing, dan sang Ibu masih terlihat kucel dengan memakai daster belelnya. Bagi yang tak dibantu baby sitter seperti saya, Toilet Training itu sangat menguras tenaga dan kesabaran. Karena walau terdengar mudah, melatih anak agar buang air ke toilet ini sangatlah susah. Anak tidak langsung menurut dan mengerti apa yang kita ajarkan.

Berbulan-bulan melatih Bia Toilet Training, saya sempat putus asa. Tidak terhitung berapa kali saya menangis dan jengkel dibuatnya. Kadang Bia bisa bilang ingin pipis ke toilet, namun kadang juga ia baru bilang setelah celananya sudah basah. Sering juga ia mengompol di karpet dan kasur, bahkan sampai pup di lantai. Karena itu semua karpet-karpet di rumah digulung dan diamankan, serta kasur juga sering dijemur agar tidak bau pesing.

(Baca juga : Habis Menyapih Munculah Toilet Training)

Jika membaca pengalaman Toilet Training ibu-ibu lain internet, tidak usahlah berekspektasi terlalu banyak. Ada yang sukses Toilet Training selama berminggu-minggu, ada yang 1 bulan, ada juga yang lebih dari sebulan. Percayalah, semua anak itu tidak sama. Jangan membandingkan anak satu dengan anak lainnya. Hanya Ibunya lah yang paling mengerti kondisi anaknya sendiri. Tetaplah sabar, itu kuncinya.

toilet training anak - catatanbundabia.com
cr : popsugar.com

Ada banyak sekali cara yang sudah saya lakukan agar Toilet Training ini dapat berhasil, antara lain :

1. Rutin membiasakan anak pergi ke Toilet

Seorang Ibu harus tahu kira-kira anaknya pipis berapa jam sekali setiap harinya. Jika sudah mendekati waktunya untuk pipis, bawalah si anak ke toilet. Namun siap-siap kecewa juga karena tak jarang si anak tidak mau diajak ke kamar mandi, sehingga Ibu harus memutar otak untuk mencari cara lain. Bisa dengan cara membawa mainan kesukaannya (seperti boneka, robot-robotan, dll) untuk ikut pipis, dan memberikan reward jika mau pipis di Toilet. Untuk anak saya, cara yang paling ampuh adalah dengan membawa boneka kesukaannya untuk ikut pipis. Pastikan bonekanya juga terbuat dari plastik, sehingga tidak masalah jika basah terkena air.

2. Memberitahu anak kapan harus ke Toilet

Jika si anak tidak mau diajak ke Toilet, maka biarlah ia kembali melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan, tidak perlu dipaksa. Misalnya jika si anak sedang menonton TV, beritahu dia dengan, “hey nak, nanti kalau sudah iklan, kamu pipis ke toilet dulu ya.” Ia awalnya mungkin akan acuh tak acuh, namun ketika acaranya sedang iklan, ia akan memberitahu ibunya. “bun, sudah iklan bun.” Jika sudah begitu, maka sang Ibu tinggal mengarahkan. “nah sudah iklan kan? ayo sekarang pipis dulu.” Ini adalah cara yang paling ampuh bagi saya, karena si anak tidak merasa dipaksa.

3. Memakaikan celana dalam biasa

Saya mengira Training Pants akan sangat membantu saya ketika Toilet Training, namun ternyata tidak juga. Training Pants adalah celana yang di desain khusus untuk melatih anak pipis sendiri ke toilet. Dengan menggunakan Training Pants, anak diharapkan bisa merasakan tidak nyamannya jika celana basah karena pipis. Tidak seperti diaper, Training Pants akan langsung basah jika sudah terkena pipis. Meski begitu, Training Pants memiliki lapisan anti airnya, sehingga air pipis tidak akan langsung bocor ke lantai. Jika pipisnya banyak, airnya akan merembes melalui paha si anak, tapi tidak akan sebanyak jika menggunakan celana dalam biasa. Namun bagi saya inilah mengapa saya lebih prefer memakaikan anak saya celana dalam biasa, karena celana dalam tidak memiliki daya tampung airnya, sehingga air akan langsung bocor ke lantai, dan ini tidak apa-apa. Karena inilah yang akan membuat si anak merasa tidak nyaman. Jika lantai sudah basah terkena ompolnya, si anak akan langsung memberitahu ibunya. Berdasarkan pengalaman saya, Bia tidak langsung memberitahu saya ketika ia mengompol di Training Pants nya. Ia masih merasa nyaman, meski celananya sudah basah. Setelah saya amati beberapa kali, ternyata karena air pipis nya tidak membasahi sekitar, sehingga ia tidak langsung memberitahu saya. Inilah mengapa saya langsung menggantinya dengan celana dalam kain biasa.

4. Gunakan karakter kesukaannya sebagai contoh

Misalnya jika si anak sedang menyukai Princess Elsa di Film Frozen, gunakanlah ia sebagai contoh. misalnya “nak, Princess Elsa itu kalau pipis selalu di toilet. Princess Elsa tidak pernah pipis di celana.” Terus saja diulang-ulang seperti itu, si anak biasanya akan menimpalinya dengan, “aku juga bisa pipis di toilet seperti Princess Elsa.” Gunakanlah kartun-kartun kesukaannya sebagai contoh.

5. Selalu mengingatkan anak untuk selalu pipis dan pup di Toilet

Ingatkan ketika si anak sedang bermain, ingatkan ketika ia sedang menonton TV, ingatkan ketika ia sedang makan, ingatkan ketika ia sedang menuju tidur, ingatkanlah setiap saat. Dengan ini diharapkan si anak akan selalu ingat untuk selalu buang air di toilet. Ibu juga bisa mengingatkannya dengan, “nak, kamu sudah besar, kamu bukan bayi lagi, kalau pipis dan pup harus di toilet.” Karena ada kalanya si anak tidak suka disebut bayi lagi.

Successful-Potty-Training
cr : i-pottytraining.com

6. Kerjasama dengan si Ayah, dan anggota keluarga

Jika sudah terlanjur melatih anak Toilet Training, usahakan jangan kembali memakaikan si Anak dengan Diaper. Kerjasama lah dengan anggota keluarga agar bisa ikut membantu melatih si Anak buang air ini dengan lancar. Jika sang Ibu sudah merasa capek, bergantian lah dengan sang Ayah atau anggota keluarga lain untuk ikut membantu melatih si Anak ke Toilet.

7. Konsisten dan Sabar

Saya sadar mungkin yang membuat anak saya masih mengompol sampai 2 tahun lebih karena saya tidak konsisten dan sabar dalam melatihnya. Seringkali jika saya sudah merasa lelah, saya memakaikan anak saya dengan diaper lagi. Atau jika sudah lelah, saya kelepasan memarahi anak saya karena tidak mau diajak ke Toilet. Dan saya sadar betul ternyata inilah yang membuat fase Toilet Training anak saya berlangsung agak lama. Jika terlalu dimarahi, Anak akan merasa takut, dan akhirnya tidak mau lagi pipis di Toilet. Atau jika si Anak dipakaikan diaper lagi, si Anak akan merasa kembali nyaman dan tidak mau melepas popoknya lagi, karena jika dilepas maka ia akan mengompol dan itu akan membuat ibunya marah. Tetaplah konsisten dan sabar dalam melatihnya. Janganlah sungkan untuk meminta bantuan suami dan keluarga jika sedang stres dan kelelahan. Percayalah, Toilet Training ini sangat menguras tenaga, emosi, dan pikiran.

(Baca juga : Menjadi Seorang Ibu Betul-betul)

Hingga akhirnya awal Februari lalu, tanpa diminta dan dipaksa, Bia menghampiri saya dengan wajahnya yang terlihat gelisah.

“bun, bia mau pipis di toilet.” 

Saya sangat bahagia sekali mendengarnya. Finally! Dengan semangat, saya langsung menarik anak saya ke toilet. Dan tahu apa yang lebih membahagiakan? Malam itu juga, ia sudah terbebas dari diaper. Ia sudah tidak mengompol di kasur lagi. Jika mau pipis, ia akan selalu menghampiri saya, atau ayahnya. Dan malam harinya, meski sebelum tidur ia tidak pipis terlebih dahulu, ia akan terbangun tengah malam, dan membangunkan ayah bundanya.

“bun, bangun, bia mau pipis.”

Untuk pipisnya, Bia sudah berhasil. Namun untuk buang air besarnya, ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama. Ia baru bisa buang air besar di toilet sebulan kemudian. Karena itu, tetaplah sabar dan terus mencoba ya, bunda!

Kini, setelah selesai Toilet Training, ternyata muncul “masalah” baru, yaitu si anak jadi suka menahan buang air nya, karena malas ke toilet. duh.. benar-benar jadi merasakan deh bagaimana lelahnya orangtua mengasuh kita ketika masih kecil. Mungkin ini tidak seberapanya jika dibanding fase-fase yang akan datang, mungkin. Mudah-mudahan kita selalu diberikan kesabaran dan kekuatan yang berlebih dalam menjalani peran sebagai seorang Ibu.

Semangat!!

5 Comments

  1. Anakku baru mau ke toilet sendiri pas 4 tahun lebih. Kupikir ya emang waktunya anak2 berbeda mengerti apa itu toilet

    1. Betul.. ga semua anak itu sama 🙂

  2. Hastira

    alhamdulualh selalu lancar anak2ku lagi kecil, mengapa??? krn jaman anakku masih kecil belum ada diapers shg lebih dini bisa diajarkan untuk menagtakan mau ke tolet, bahkan anak sulungku dulu telat bicara tp kalau mau ke toilet dia selalu menunjukan alat kemaluannya. Kalau sekaarng agak sulit krn terbiasa pakai diapers

    1. wah alhamdulillah yah mbak.. kalo jaman sekarang sih popok semakin banyak dan semakin bagus kualitasnya, jadinya tugas orangtua nya semakin “berat” buat ngelatih hehe

  3. Duh noted bgt ini, biar ga boros diapers hiks… Kadang anakku sehari BAB 3x kan borooos 🙁
    Nanti kl uda 1th mulai toilet training ah, mudah2an berhasil… Amin 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked*