Tulisan

Mereka yang selalu Merindu Tuhannya

Siang itu, sekitar pukul 10 lewat 15 menit, sambil menenteng 2 plastik berisi makanan dan bahan memasak yang baru saja saya beli di sebuah swalayan, saya berdiri di tepi jalan menunggu ojek. Oh ya, beberapa hari ini saya sangat terbantu dengan adanya ojek online karena bisa mengantar dan menjemput saya dimana saja. Ada kalanya suami tidak dapat mengantar dan menjemput saya karena disibukkan dengan pekerjaannya. Dan saya tidak bisa menyalahkannya karena itu. Pun saya tidak dapat selalu bergantung pada beliau.

Sambil sesekali mengecek Hp, saya menoleh ke kanan dan kiri. Belum ada tanda-tanda ada ojek yang mendekat. Ugh kenapa pula saya harus membeli belanjaan sebanyak dan seberat ini, sesal saya dalam hati. Sudah tahu mau naik motor, harusnya belanjaannya tidak perlu banyak-banyak. Saya menggerutu sendiri. Hingga akhirnya yang dinanti tiba, Mang Ojek! Ia menghentikan motornya di depan saya, sambil memastikan.

“gojek bu?”

“iya pak saya yang pesen gojek.” tanpa basa-basi saya langsung menyantolkan 2 plastik belanjaan besar di cantolan motor. Berat euy! 

Ia lalu menyodorkan helm yang sudah dibawanya di tas. Dan tiba-tiba saya teringat sesuatu.

“Pak, punten, bisa minta tolong antar ke suatu tempat dulu? kalau tidak bisa tidak apa-apa.” Saya teringat saya belum membayar pelunasan kursus yang saya ikuti, padahal saya sudah membawa uang tersebut. Kebetulan tempat kursus nya pun tidak begitu jauh dari swalayan, namun agak jauh dari lokasi yang saya minta antarkan di aplikasi online. Si Bapak Ojek merengut bingung.

“lama ga ya bu?”

“insya Allah sebentar sih Pak. Mudah-mudahan.”

si Bapaknya nampak berpikir. Ia terdiam sesaat. Saya jadi tidak enak. Memang mungkin tidak boleh kali yah? Saya dengan cepat bersuara lagi.

“Kalau tidak bisa tidak apa-apa, Pak.” kata saya. Ah si Bapaknya ini palingan buru-buru pengen narik penumpang lagi, makanya ga bisa nunggu lama.

“tidak apa-apa kalau cuma sebentar bu.” jawab si Bapak Ojek. “bukan apa-apa, saya cuma takut tidak keburu untuk sholat Jum’at.”

Mendengar itu kepala saya serasa ditoyor.  Apa yang baru saya lakukan? Saya baru saja berprasangka buruk terhadap si Bapak. Saya pikir bapaknya buru-buru karena ingin menarik penumpang lagi, ternyata karena takut tidak bisa mengikuti sholat Jum’at. Alasan yang sederhana. tapi dalam.

“insya Allah cuma mau membayar uang saja Pak. tidak akan lama.” Sambil memakai helm, saya pun duduk di motor.

Sepanjang jalan saya banyak berpikir. Apa sih tujuan saya dalam hidup ini? Apa hanya untuk mengumpulkan uang demi uang? Apa hanya untuk membesarkan anak? Apa hanya untuk mengurus suami saja? Tidak, tujuan saya tidak hanya itu. Jauh dari itu, Bapak Ojek ini telah menyadarkan saya, bahwa ada tujuan yang lebih tinggi dalam hidup ini, lebih tinggi dari sekedar bekerja dan mendapatkan upah. Ialah Ibadah. Bersyukur dan menggapai Ridho Sang Pencipta.

Bapak Ojek itu bisa saja setelah mengantar saya, mencari penumpang lagi di sekitaran. Jangan salah, mungkin banyak yang membutuhkan jasa antar ketika waktu Jum’atan tiba, karena itu adalah waktu untuk makan siang dan istirahat para pekerja. Bapak itu mungkin akan mendapatkan uang yang lebih banyak. Mungkin. Tapi yang dikhawatirkan olehnya adalah tidak bisa mengikuti sholat Jum’at. Alasan yang sangat sederhana, namun menyadarkan saya betapa pentingnya ibadah kepada Sang Pencipta dalam hidup ini.

Saya jadi teringat lagi dengan Penjual Batagor di komplek rumah. Ia adalah Penjual Batagor yang berjualan di depan ruko komplek. Saya pernah membelinya, dan batagornya enak, penjualnya pun ramah. Banyak yang membeli dagangannya. Sore itu, ketika saya hendak membeli sesuatu di ruko komplek, saya mendapati gerobak Batagor yang ditinggalkan si pemiliknya di samping jalan. Saya menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak nampak dimana penjualnya berada. Bagaimana kalau gerobaknya dicuri orang? Apalagi Batagornya masih tersisa banyak disana? Dan bagaimana jika uang di lacinya diambil orang? Meskipun bukan urusan saya, tapi saya ikut memikirkan hal ini. Lalu saya menoleh ke arah mesjid yang tak jauh dari situ.

Kala itu sudah masuk waktu untuk Sholat Ashar, dan saya melihat banyak yang sedang sholat berjama’ah di mesjid. Saya berpikir, jangan-jangan penjual batagornya sedang sholat Ashar berjama’ah di mesjid? Lalu kenapa dagangannya ditinggal? Kenapa gerobaknya dibiarkan ditinggal di pinggir jalan?

Tak lama kemudian, saya melihat banyak laki-laki yang keluar dari mesjid. Oh, sudah selesai sholat Ashar berjama’ah nya. Dan Benar saja, si Penjual Batagor kembali ke gerobaknya setelah menunaikan Sholat Ashar di mesjid. Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.

Ada lagi kisah serupa, yakni penjaja Angkringan kenalan suami saya. Jika tiba waktu sholat, maka ia langsung meninggalkan segala aktivitasnya, dan segera berjalan ke mesjid untuk mengikuti sholat berjama’ah. Gerobaknya? ia tinggalkan begitu saja. Bahkan tak jarang uangnya pun ia tinggalkan di laci gerobaknya. Namun seolah “tak peduli”, si penjual angkringan itu tetap saja meninggalkan dagangannya ketika waktu sholat sudah tiba. Ia menitipkan semuanya kepada Tuhannya.

Saya malu. Malu sekali. Malu sekali dengan orang-orang seperti mereka ini. Mereka lebih mementingkan kehidupan Akhiratnya, daripada terus sibuk memikirkan dunia.

Mereka, yang tak jarang sering saya pandang sebelah mata, adalah orang-orang yang bersyukur dengan hidupnya, bersyukur kepada Penciptanya, yang yakin dengan Tuhannya, yang akan memberikan rejeki kepada mereka. Yang selalu rindu Tuhannya dalam setiap sujud. Merindukan Allah dalam setiap sholatnya.

Saya merenung dalam hati. Jika terdengar adzan berkumandang, apa yang biasa saya lakukan? saya bahkan tidak langsung menghentikan aktivitas saya. Malah godaan itu semakin berat. Tiba-tiba badan ini terasa malas untuk bangkit dan mengambil air wudhu. Padahal apa yang sedang saya kerjakan? Sepenting apa sampai harus menanti-nanti sholat? Untuk apa sebenarnya saya hidup di dunia ini?

Terkadang kita hanya cukup melihat orang-orang di sekitar kita. Kadang mereka yang kita pandang sebelah mata, adalah orang-orang yang dapat mengajarkan dan menyadarkan kita tentang  apa sebenarnya tujuan hidup ini.

Respect!

14232506_1088715961182653_8045225825818396804_n

6 Comments

  1. Respek sama bapak2 di atas dan sama tulisan ini

    1. terima kasih teh tatat 🙂

  2. Hastira

    nah itu dia aku suka salut dg pedagang yg ninggalin geroabknya untuk solat jumat, truk2 yg mampir buat solat. jadi kadang malu kl kita suka telat solat dibanding mereka

    1. iya mbak, malu yah sama mereka.. apalah diri ini yang suka menanti-nanti sholat meski sudah terdengar adzan 🙁

  3. klo lagi sendirian dirumah pas lg jaga warung, klo waktunya sholat aku jg tinggal aja warungnya kosong 😀 ya mau gimana lg, biar yang di Atas saja yang menjaga. Untungnya sih enggak pernah kenapa2 kalau ditinggal

    1. Masya Allah.
      betul, lebih baik serahkan saja semuanya pada yang Maha Melihat 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked*