Tulisan

Sebuah Tulisan Tentang Cinta

Seorang penyair terkenal bernama Kahlil Gibran pernah berkata, “Cinta tidak menyadari kedalamannya, dan terasa pada saat perpisahan tiba…” Begitu yang saya rasakan ketika menghadapi kenyataan bahwa Ayah saya telah tiada. Saya merasa menyesal, seandainya saya lebih dulu menyadari bahwa saya sangat menyayangi orangtua saya, sangat menyayangi ayah saya yang kala itu sedang sakit, tentu saya akan bersabar hati untuk merawatnya dengan penuh kasih. Kesibukan saya yang tak berarti telah menjauhkan dan membuat saya lupa akan kewajiban seorang anak kepada orangtua nya.

Sejak saat itu saya tersadar. Adakah kelak laki-laki yang akan mencintai saya sebagaimana Ayah saya menyayangi saya dari kecil? Cinta yang tulus tanpa pamrih dengan doa yang tak pernah putus untuk anak-anaknya. Apalagi setelah ayah saya pergi, saya sempat merasakan sakit hati teramat dalam terhadap seorang laki-laki. Ini membuat saya berpikir skeptis, bahwa tidak akan ada lagi laki-laki yang mencintai perempuan dengan tulus selain ayahnya sendiri.

(Baca juga : Untukmu yang Merindukan Kesempurnaan Seorang Lelaki)

Hingga saya bertemu dengan laki-laki yang kini menjadi suami saya.

ia, yang setiap harinya bekerja demi menafkahi keluarga kecilnya dari pagi hingga senja. Ia yang sebelumnya tidak pernah bertemu dan mengenal istrinya, kini menjadikan istri dan anaknya sebagai prioritas utamanya setiap hari.

ia, yang tak pernah menyalahkan istrinya sekalipun istrinya berbuat kesalahan yang besar. Ia akan memeluk istrinya sambil meminta maaf, meminta maaf karena belum mengajari istrinya dengan baik, karena ia meyakini bahwa kesalahan istri merupakan kesalahan suami.

ia, yang tak pernah malu membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah. Ia tahu istrinya lelah memasak dan membereskan rumah, maka ia tak segan berjalan menuju dapur, dan mencuci piring-piring kotor yang tersisa. Atau bergantian mengajak main anaknya, sampai menceboki anaknya yang sudah buang air besar.

ia, yang selalu memuji masakan istrinya, sekalipun itu hanya tahu dan tempe goreng. Ia tidak pernah mengatakan ‘tidak enak’ pada setiap masakan. Ia tahu memasak itu kegiatan yang melelahkan, maka ia menghargai setiap masakan yang dibuat istrinya.

ia, yang tidak pernah sekalipun membentak istrinya, meski mereka sedang bertengkar. Jangankan membentak, ia bahkan tidak pernah berkata kasar pada istrinya. Ia tetap menghormati ibu dari anaknya itu, meski saat itu mereka sedang dalam masalah.

Ia, yang selalu mementingkan kebutuhan istri dan anaknya, daripada kebutuhannya sendiri.  Jika mendapatkan uang lebih, ia lebih suka memakainya untuk kebutuhan anak dan istrinya. Saya tahu betul suami saya juga menginginkan banyak hal, namun ia jarang sekali membelikannya untuk diri sendiri. Ia adalah sosok laki-laki yang sering mengalah untuk keluarganya.

ia, yang tidak pernah mencela dan menghardik istrinya. Apapun kondisinya, ia akan selalu menganggap istrinya cantik, meski berat badannya sedang naik. Tidak, ia tidak peduli. Ia tidak peduli istrinya seperti apa. Ia tidak peduli omongan orang lain tentang istrinya.

ia, yang selalu bisa menenangkan istrinya ketika dirundung masalah. Ia akan memeluk istrinya dan menghiburnya, meski ia juga merasakan sedih yang sama.

ia, yang membuat saya sadar selama ini telah salah, bahwa memang benar ada laki-laki yang mencintai seorang wanita dengan tulus, selain ayahnya sendiri.

Laki-laki itu adalah suami. Yang surga istrinya berada di dalam Ridhonya. Yang kewajiban istri berada dalam dirinya. Yang kesalahan istri berada dalam tanggungjawabnya.

Cinta yang tulus itu sungguh ada. Cinta suami terhadap istrinya, juga sebaliknya. Cinta yang berlandaskan cinta hamba kepada Tuhan.

Ia, yang sanggup menerima segala kekurangan istrinya tanpa banyak mengeluh dan menuntut, karena sejatinya manusia memang tak ada dan tak akan pernah ada yang sempurna, dan sanggup menjadi nahkoda sebuah kapal yang tak pernah ia kendalikan sebelumnya. Saya merasa sangat beruntung dan bahagia mendapatkan suami yang tidak hanya saya inginkan, namun juga yang saya butuhkan di dunia ini. Tidak ingin mengulangi penyesalan ketika ayah saya pergi sebelum saya sempat berbakti, saya bertekad untuk dapat mencintai suami saya, dan merawatnya hingga maut memisahkan kami berdua.

Cinta adalah ketika kebahagiaan seseorang lebih penting dari kebahagiaanmu.” – H. Jackson Jr.

Ya, cinta adalah ketika kebahagiaan seseorang lebih penting dari kebahagiaanmu sendiri. Cinta bukan hanya bagaimana dibuat bahagia, namun juga harus membahagiakan orang yang kita cintai.

Saya, yang selalu dibuat bahagia olehnya, ingin sekali menghadiahkannya sesuatu, yaitu sebuah tas. Ia pasti akan tertawa mendengar ini. Tapi entah mengapa jika saya ditanya benda apa yang ingin dihadiahkan padanya, yang saya pikirkan pertama kali adalah tas. Ya, sebuah tas. Tas kerja, lebih tepatnya. Dari sejak saya bertemu pertama kali dengannya, menikah, hingga sekarang, saya tidak pernah melihatnya berganti tas kerja. Ia tetap memakai tas ransel hitam yang sama yang membawa laptop setiap harinya. Tas itu bukanlah tas laptop. Tas itu tidak nyaman jika membawa laptop. Karena itu saya ingin sekali menghadiahkannya tas kerja yang nyaman jika membawa laptop. Bukan, bukan karena ia tidak mampu untuk membeli, namun karena ia selalu mengalah dan mengesampingkan kebutuhannya untuk saya dan anak kami. Saya ingin menunjukkan padanya, bahwa ia pun boleh bahagia. Ia tidak harus selalu membahagiakan orang lain. Ia pun pantas untuk menerima hadiah, hadiah yang ia butuhkan.

(Baca juga : Our Love Story)

Mungkin perjalanan kami masih panjang, mungkin. Namun saya yakin, saya tidak akan lebih bahagia tanpanya. Ia yang bisa membuat hari saya penuh warna. Ia yang bisa mengubah tangis menjadi tawa. Ia yang selalu mengajari saya untuk selalu bersyukur dengan segala nikmat yang diberikan Tuhan. Ia yang bisa menepis pikiran saya selama ini, bahwa cinta yang tulus itu benar-benar ada. Semoga rasa ini dapat terjaga selamanya.

….Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian – Kahlil Gibran

catatanbundabia

www.catatanbundabia.com

 *Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog yang diselenggarakan Elevenia*

elevenia.co.id

8 Comments

  1. Nice posting n keep sharing ya.. Terima kasih sudah mengingatkan. Btw, gambar ilustrasinya bagus mba ☺

    1. Terima kasih mbak.. hehe senang jika bermanfaat

  2. Imang

    Sukaaa pengen co past ke blog iihhh

    1. wah terima kasih ya mbak ^_^

  3. Setelah membaca ini, aku sebagai suami merasa aku sudah seberapa sayang dan pedulu sama istri ya

    1. Semangat bang phadli..
      secuek cueknya suami insya Allah penilaian istri mah beda hehehe

  4. Cinta tidak pernah tau kedalamannya..
    Cinta tidak pernah ada batasan ya.

    set kamar anak
    box bayi
    set kamar
    tempat tidur tingkat

Leave a Reply

Required fields are marked*