Tulisan

Ditolong karena Menolong

Kejadian ini baru saja saya alami kemarin. Tulisan ini murni untuk pembelajaran, bukan untuk pamer kebaikan atau riya.

Seminggu yang lalu, pada suatu siang, ketika suami dan saya hendak menjemput Bia dari sekolah, saya mendapati ponsel yang tidak saya kenal di dalam mobil. Saya bertanya, ini hp siapa mas? Suami saya pun menjawab tidak tahu. Ternyata beliau menemukan ponsel itu di kantornya. Sepertinya ada orang yang lupa meninggalkan ponselnya di kursi. Karena khawatir hilang diambil orang, suami saya pun mengamankannya. Walaupun begitu, tidak ada telepon masuk ke ponsel tersebut, sehingga suami saya meminta saya mencari nomor kontak keluarganya.

Untunglah ponselnya tidak dikunci, sehingga saya bisa mencari nomor kontak istri ataupun anaknya. Namun nihil, saya tidak menemukannya. Mungkin pemilik ponsel ini menamai keluarganya dengan nama masing-masing, sehingga saya tidak bisa mengetahuinya. Selang beberapa lama kemudian, terdengar dering telepon. Rupanya ada yang menelepon ke ponsel orang tersebut. Suami saya mengangkatnya, ternyata pemilik ponsel tersebut yang menelepon. Setelah janjian untuk bertemu, akhirnya suami saya pun mengembalikan ponsel tersebut ke tangan pemiliknya lagi.

Tidak ada dalam benak pikiran suami saya untuk memiliki ponsel tersebut. Begitu juga dengan saya. Walaupun kami menemukan dompet berisi uang jutaan rupiah pun, kami tidak akan pernah mengambil sedikitpun. Karena itu bukan hak kami. Lagipula jika sampai hal serupa menimpa kami, kami berharap ada orang yang berbuat jujur dan baik juga untuk mengembalikan apa yang menjadi milik kami. Sesederhana itu.

Seminggu kemudian, tepatnya hari Rabu kemarin, saya dan suami mengantar anak saya ke sekolah dengan menggunakan motor. Sambil memasukkan ponsel saya ke dalam jaket, saya pun naik ke motor untuk berboncengan dengan suami. Tidak ada pikiran apa-apa saat itu. Tangan saya memeluk dan memegang Bia yang duduk di antara kami. Semuanya berjalan seperti biasanya.

Setelah mengantarkan Bia, saya dan suami pun pulang. Saat di jalan pulang, saya merogoh saku jaket untuk mengambil ponsel. Namun ternyata saku jaket saya kosong, tidak ada ponsel disitu. Oh mungkin tadi tidak jadi kubawa pikir saya. Saya tidak menaruh perasaan apa-apa saat itu. Walau begitu saya masih merasa tadi sempat memasukkan ponsel ke jaket saya.

Sesampainya di rumah, saya pun mencari-cari ponsel tersebut. Awalnya saya masih tenang, namun kemudian berubah panik ketika suami saya menelepon ke nomor saya, ternyata Ponselnya sedang tidak aktif. Saya mulai keringat dingin, karena saya tahu ponsel itu masih menyala dan tidak sedang saya matikan. Kalau begitu siapa yang mematikannya? Suami saya berangkat ke kantor.  Kami pun berkomunikasi via facebook chat.

Berarti ponsel saya terjatuh dari jaket, kemudian diambil orang di jalan. Makin paniklah saya. Bertanya-tanya ke penjaga kebersihan dekat rumah pun, mereka tidak melihatnya. Saya makin panik. Tangis saya membuncah ketika suami saya berhasil menelepon ponsel saya. Ternyata ada yang mengangkat! Namun ternyata tidak ada jawaban, si pengangkat telepon hanya mendengarkan saja. Jadi benar… hp saya diambil orang…  Setelah itu saya menangis. Mulai berpikiran yang tidak tidak. Bagaimana kalau yang menemukan ponsel saya ini orang yang jahat? Bagaimana kalau dia menyalahgunakan data-data di dalam ponsel tersebut? Bagaimana kalau nomor saya disalahgunakan? dan lain sebagainya. Tangis saya makin menjadi. Apalagi disitu juga banyak sekali foto anak saya. Saya tidak terima jika sampai foto-foto anak saya…. ah membayangkannya saja saya tidak kuat.

Suami saya menenangkan. Ia berkata ada temannya yang bisa melacak nomor. Sambil berusaha tenang, saya pun menunggu kabar teman suami saya tersebut. Namun yang ada malah saya makin tidak tenang. Tak lama kemudian suami saya memberi kabar lagi, bahwa katanya ponsel saya terlacak berada di samping tol.

“ikhlasin aja ya, bun. habis ini bunda pake hp ayah aja.” kata suami saya.

Disaat itulah saya ngerasa udah ga ada harapan lagi. Mungkin ponselnya sudah mau dibawa pergi pengambilnya. Mungkin sekarang pengambilnya sedang mau keluar Bandung. Mungkin HP nya mau dijual diluar Bandung..

Saya mencoba ikhlas saja. Ya udahlah biarin aja.. toh HP saya udah 3 tahun, kamera udah rusak, batre kadang ngedrop, mau dijual juga emang masih laku? Ponsel murah seperti itu mungkin hanya laku ratusan ribu saja. Soal data-data yang ada di HP, ah ya sudah saya serahkan saja sama Allah. Biarlah Allah yang menjaga saya dan keluarga. Saya bisa berbuat apa lagi?

Suami saya pun pulang dari kantor. Ia langsung memanggil-manggil saya. Dengan setengah sadar, saya menghampiri suami saya. Mata saya sudah mau berkaca-kaca mau menangis, ketika suami saya menyodorkan ponsel berlayar hitam besar dari sakunya.

Saya terbelalak kaget.

“i–ini kan hp aku mas?” saya mengambil ponsel tersebut dengan tak percaya.

“iya, hp bunda jatuh di dekat rumah, dan ternyata yang mengambilnya tetangga belakang rumah, yang kebetulan saat itu sedang jogging” jawab suami saya. “HP nya jatuh berantakan di jalan, lalu Bapak tetangga membenarkannya lagi dan di-charge, katanya takut sewaktu-waktu pemilik HP nya nelepon, karena HP nya lowbat. Ayah penasaran ingin telepon lagi, karena sebelumnya kan diangkat tapi tidak bicara. Dan setelah kemudian ayah coba telepon, diangkat lagi dan akhirnya mereka bicara. Yang bicara adalah istrinya. Akhirnya kami janjian untuk bertemu, ternyata mereka tetangga belakang rumah kita!”

“tapi, kenapa tadi dilacak HP nya ada di samping Tol?”

“iya mungkin GPS nya aja yang ngaco.” jawab suami saya santai.

Mata saya berkaca-kaca mau menangis. Menangis malu. Ternyata yang tadi saya pikirkan tidak pernah terjadi. Ternyata masih banyak orang yang baik di dunia ini. Saya tidak bisa membayangkan jika ponsel saya yang terjatuh tadi itu diambil oleh orang yang berniat jahat. Mungkin sekarang ponsel itu sudah raib.

Kemudian saya teringat kembali peristiwa seminggu yang lalu. Saat suami saya mengamankan ponsel orang yang tertinggal di kantor. Suami saya mengembalikan lagi kepada pemiliknya.

Ah… begitu rupanya. Mungkinkah ini balasan Allah karena telah berbuat baik dan menolong orang lain?

Tidak ada ruginya kita membantu orang lain. Tidak pernah ada ruginya kita berbuat baik pada orang lain. Tidak pernah ada ruginya kita menolong sesama. Karena Allah akan membalasnya. Kebaikan sekecil apapun akan dicatat oleh Malaikat disamping kita. Walau memang tak selamanya akan dibalas di dunia, tak selamanya dibalas di depan kita.

 “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. [HR Muslim]

….

“maaf ya mas, aku teledor. ga akan kuulangi lagi.” 

 

9 Comments

  1. Kyaaa tetangga tersebut baik betul ya mb sampai dichargekan juga hihi
    Beruntung memiliki tetangga yang perhatian
    Hidup bersosialisasi gini memiliki tetangga yang baik adalah salah satu dari bentuk nikmat juga ya

    1. iyaaa beruntung banget punya tetangga yg perhatian kaya gitu, ternyata masih banyak yah orang yang baik
      makasih udah mampir 🙂

  2. Mudahkan jalan orang lain, maka Allah akan lapangkan jalan kita. Aamiin
    salam kenal Bunda Bia 🙂

    1. Betul mbak.. setelah ini saya langsung merasa pertolongan Allah itu sangat dekat:)
      Salam kenal jg mbak, makasih sudah mampir

  3. ini judulnya kebaikan berbalas kebaikan pula

    1. Iya bang phadli

  4. Alhamdulillah ya mbak, tidak jadi hilang hpnya, itulah mengapa parno banget kalau hp ilang karena banyaknya foto yg tersimpan. Saya juga pernah nemuin Iphone di toilet, tapi saya kembalikan. Alhamdulillah hp saya tertinggal di manapun masih bisa kembali, maklum pelupa, hehe. Memang, segala sesuatu akan kembali kepada kita.

    1. betul mbak eni..
      apa yang kita tanam itu yang kita tuai ya hehe

Leave a Reply

Required fields are marked*