Tulisan

Balada Dapur Ngebul

Ala bisa karena biasa, atau kebanyakan orang terbiasa mengetahuinya dengan  kalimat ‘bisa karena biasa‘, Siapa yang tidak tahu tentang peribahasa ini? Ini adalah peribahasa  yang sudah sering didengar di kehidupan sehari-hari. Peribahasa ini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sesuatu yang sukar, kalau sudah biasa dikerjakan, tidak terasa sukar lagi. Sesuatu yang awalnya kita rasa sulit, jika kita sudah biasa mengerjakannya, maka akan tidak terasa sulit lagi.

Peribahasa atau pepatah ini dapat mudah dikaitkan ke dalam berbagai aktivitas sehari-hari, karena memang hidup ini penuh dengan pembelajaran. Peribahasa tersebut juga sangat menggambarkan hidup saya saat ini.

Sejenak kembali ke beberapa tahun yang lalu, sebelum saya menikah. Saya termasuk orang yang beruntung ketika masih tinggal bersama orangtua. Saya tidak pernah merasa kelaparan sedikitpun, karena selalu saja ada makanan yang tersedia di rumah. Jika suka, saya bisa makan sepuasnya dan menambah beberapa piring, jika tidak suka, maka saya tidak akan makan sama sekali. Lapar dong? oh tidak, saya tinggal telpon delivery untuk segera mengantarkan makanan ke rumah. Seindah itu. Sesederhana itu. Indahnya hidup jika memiliki pilihan seperti itu.

Sebelum menikah, saya bukanlah orang yang gemar memasak untuk keluarga. Ah boro-boro. Jangankan memasak, saya bahkan tidak bisa membedakan mana lengkuas mana jahe. Tidak bisa membedakan mana daun bayam, mana kangkung. Atau lebih parah, saya bahkan tidak bisa memasak nasi. Untuk apa? toh sudah ada mbak-mbak di rumah yang bertanggungjawab untuk selalu menyediakan kebutuhan perut anggota keluarga di rumah. Saya jarang sekali ke dapur, untuk memasak. Saya hanya ke dapur untuk mengambil piring dan sendok untuk makan, setelah itu kembali lagi mengunci diri di kamar.

Bahkan dulu saya pernah berdoa agar mendapatkan suami yang jago masak. Karena saya malas masak. Males. Ga bisa. Titik.

Tapi, semuanya (harus) berubah ketika negera api menyerang saya memutuskan menikah…

Saya (lagi lagi) termasuk orang yang beruntung, karena memiliki pendamping hidup yang benar-benar mencintai apa adanya. Tidak banyak menuntut harus bisa ini itu. Beliau hanya menuntut saya agar bisa menjadi diri yang lebih baik lagi dari sebelumya, tapi tidak pernah yang menuntut  saya harus bisa menjahit, memasak, menyulam, main bola, dan lain sebagainya. Beruntung dan bersyukur. Tapi, haruskah setiap hari beli masakan dari luar?

Setelah menikah, saya tidak langsung masak sendiri. Kami seringnya jajan di luar, beli  dan beli masakan dari luar. Masih agak agak takut untuk masak, karena emang ga biasa banget ke dapur. Bisa masak nasi di rice cooker aja baru baru sebelum nikah. Kalau masak takutnya rasanya ga enak. Takut suami jadi ga cinta lagi huhuhu.. teu kitu oge sih. Yang jelas sekarang saya tidak bisa mengandalkan mbak-mbak di rumah untuk memasak, karena sekarang saya terpisah dari orangtua. Tidak ada lagi yang memasakkan untuk saya setiap hari.

Ibu saya pernah berkata, kalau pengen suami itu tetap cinta dengan istrinya, maka penuhilah kebutuhan perutnya. Rayulah dengan masakan-masakan lezat buatan istrinya. Niscaya suami itu akan tetap setia dan betah di rumah. Waduh berat amat, pikir saya. Tapi karena saya emang sayang banget sama si Mas, jadi aja saya bertekad untuk belajar masak. Hihi masih inget ketika pertama kali saya belajar masak ke dapur, suami saya kelihatan dari raut wajahnya bahagia banget.

fa5

Masakan gagal, bumbu keasinan, sayuran belum dicuci udah dimasak, menyajikan makanan yang masih agak mentah untuk mertua, sampai serumah bau asep karena masakan gosong, sudah pernah dijalani. Ah sombong amat, sampai sekarang juga masih sering failed kok. Tapi dulu saya akui memang parah banget. Pernah suatu ketika saat sore hari saya dan suami pulang sehabis jalan-jalan di luar, saya mencium bau amis yang sangat tidak enak dari dalam rumah. Bau amis itu seperti bau darah, tajam sekali. Saya dan suami kaget. A–ada apa ini? Pikiran-pikiran negatif pun bermunculan. Kami mencari-cari sumber bau tidak enak tersebut, yang akhirnya diketahui ternyata dari ayam mentah yang sudah hampir seminggu lebih ada di kulkas. Saya nyengir sambil minta maaf ke suami. “maaf mas, saya lupa mau ngolah ayam ga jadi jadi.” ga jadi karena bingung mau dimasak apa. Bingung soalnya belum bisa masak.

Tapi saya harus terus mencoba. Walau berakhir misuh-misuh, nangis, dan marah-marah, saya tetap tidak menyerah. Apalagi setelah punya anak. Saya dituntut untuk selalu menyediakan makanan yang sehat untuknya. Dulu sebelum punya anak sih kalau malas masak tinggal beli masakan ke warung nasi, kalau sekarang setelah punya anak, saya tidak bisa selalu mengandalkan makanan dari luar, karena tidak terjamin kebersihan dan kesehatannya.

Saya mulai sering membaca resep-resep, menonton acara masak, dan mulai mempraktekannya langsung ke dapur. Gagal. Lebih banyak gagalnya ketimbang berhasilnya. Tapi lucunya saya tidak pernah menyerah. Aneh. Ketika saya memasak, saya selalu membayangkan wajah suami dan anak saya. Membayangkan bagaimana reaksi mereka ketika menyantap makanan yang saya masak. Adakah mereka antusias meyantapnya? Apakah suami saya senang memakannya? Atau apakah Bia menyantapnya sambil berjoget-joget karena saking enaknya? Membayangkannya saja sudah membuat semangat. Walau akhirnya masakannya tidak seperti yang diharapkan, bahkan sampai detik ini pun. Tapi toh saya tidak kapok. Bahkan semalas-malasnya saya untuk masak, ujung-ujungnya tetap masak lagi. Karena udah terbiasa. it surprises me too.

Tetapi, ketika saya bertanya pada suami, apakah perubahan yang besar dari saya yang dulu (ketika baru menikah) sampai sekarang?

suami saya menjawab,

“masakan bunda sekarang enak.”

14232506_1088715961182653_8045225825818396804_n

2 Comments

  1. Alhamdulillah mantab semangatnya dan akhirnya ngebul juga ya Tante ,.. Kapan nih masak di Jakarta ?

    1. alhamdulillah.. makasih pakdhe
      wah kalo masak-masak di jkt malu sama budhe nya bia nih hehe belum ada apa-apanya 😀

Leave a Reply

Required fields are marked*