Tulisan

Mengapa Lupa Berterima Kasih?


there-isso-muchto-be-thankfulfor
“Enak jadi kamu, setiap hari ga mikirin apa-apa.”

“senangnya jadi ibu rumah tangga.”

“pengen jadi kamu ih ga perlu pusing mikirin kerjaan.”

Saya agak sering mendengar orang lain bicara seperti itu pada saya. Ya, memang terlihat “enak” menjadi seorang wanita karir… di rumah. Tiap hari apa sih yang dipusingin? palingan cuma pusing mikirin besok masak apa yah? resep bikin ini itu apa yah? that’s all. Ga usah pusing mikirin cari uang, karena itu bukan tugas seorang ibu rumah tangga. Yang mungkin dipikirin hanya bagaimana mengatur keuangan agar setiap hari bisa makan nasi dan lauk pauk yang cukup. sudah. titik.

Namun namanya juga manusia, selalu saja merasa kurang dan kurang bersyukur. Saya belakangan ini sering uring-uringan, padahal tidak pernah saya disuruh jualan nasi kuning di pinggir jalan, atau disuruh membagikan brosur pemasangan gas dan galon air minum keliling komplek. Tidak. Jobdesc saya hanya diam di rumah dan mengasuh anak saya. Masak atau tidak, suami saya kadang tidak memaksa. Beliau terkadang membelikan beberapa masakan yang dibeli di kantin kantornya untuk dibawa ke rumah, itupun kalau saya sedang malas memasak. Lalu apa yang dipusingkan?

Jenuh. seringkali saya merasa jenuh diam diri di rumah. Ini tidak bisa dihindarkan, karena ini bisa saja terjadi tidak hanya pada saya, namun juga pada orang lain. Jenuh akan rutinitas sehari-hari yang monoton. Jenuh melihat foto-foto ibu-ibu di instagram yang sengaja memamerkan keindahan interior rumahnya yang bergaya shabby chic atau scandinavian. Jenuh melihat iklan-iklan gamis-gamis lucu di facebook dan instagram yang bikin tergoda untuk membeli, namun kemudian pikir-pikir lagi karena belum punya tabungan pendidikan yang cukup untuk Bia. Jenuh melihat ibu-ibu di instagram yang begitu hebatnya membuat hidangan yang lezat dan menggiurkan di instagram, berikut dengan resepnya yang terlihat mudah padahal tidak. Jenuh. Saking jenuhnya saya jadi merasa dengki. Iri. tidak suka. kemudian uring-uringan.

Kemudian saya pun mengeluh.

Belum lagi anak saya yang belum lulus-lulus juga toilet training, seakan memberikan hiasan dari kejenuhan saya setiap hari. Tak jarang saya menyalahkan Tuhan atas segala sesuatu. Piring jatuh, saya jengkel. Anak saya pipis di lantai, saya marah. Masakan gagal, saya menyalahkan Tuhan. Begitulah setiap hari. Hari-hari diisi dengan kekesalan dan emosi yang tidak beralasan. Acara-acara hiburan di televisi bahkan tidak membuat saya terhibur sama sekali. Ada apa sebenarnya dengan diri saya?

Hingga pada suatu siang, saya sholat Dzuhur seperti biasa. Sehabis salam, saya istighfar. kemudian mengucap syukur.

“terima kasih ya Allah atas segala karunia yang sudah diberikan.”

Seketika itu airmata tak terasa jatuh ke pipi saya. Hati saya bergetar hebat. Saya menangis tak terbendung. Bahkan saya sendiri tidak tahu mengapa. Airmata itu jatuh begitu saja. padahal siang itu, saya tidak benar-benar khusyuk ketika sholat. Pun ketika sujud terakhir, saya tidak benar-benar khusyuk berdoa minta diberikan ampunan. Saya pun terhanyut. Lalu apa yang membuat saya tiba-tiba meneteskan airmata? Mungkinkah Allah sedang menegur saya dengan cara-Nya?

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya) (QS. An Nahl : 53)

Ketika mata, hati, dan pikiran berbicara. Mereka sedih karena Ruh ini selalu saja menyalahkan Robb nya. Karena Ruh ini selalu merasa kurang dan jarang bersyukur padahal sudah diberi nikmat yang berlebih. Ruh ini tidak tahu terima kasih. Saya tidak tahu terima kasih.

Saya menyesali perbuatan saya selama ini, berharap sifat buruk ini tidak muncul lagi dan segera hilang tak berbekas. Boleh jadi saya sekarang memiliki semuanya. Namun jika tanpa bersyukur, saya tidak akan punya apa-apa. Dan akan selalu merasa tidak punya apa-apa. Padahal sungguh banyak yang telah diberikan Allah pada saya sampai detik ini. Terlalu banyak.

Lalu saya ingat dulu di sosial media, ada salah satu orang yang memposting tulisan yang berisi bosannya ia menjadi pengangguran, dan ingin sekali mendapatkan pekerjaan. Memang untuk seusianya, sudah banyak teman-temannya yang mendapat pekerjaan, mungkin ia juga membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi kesehariannya. Tak selang beberapa hari kemudian ia ternyata mendapat pekerjaan di sebuah kantor. Namun tak lama ia menulis lagi, kalau ia sebal dan lelah dengan pekerjaannya.

Manusia hanya terkadang lupa untuk bersyukur.

Lupa untuk berterima kasih.

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 34)

3 Comments

  1. Selalu suka tulisan yang mengingatkan untuk bersyukur. Terima kasih ya Mbak 🙂

    1. Sama sama mbak, makasih sudah membaca 🙂

  2. saraaahhh.. akhir2 ini juga aku sering kurang bersyukur
    mungkin kita bedua kurang piknik dan bersosialita~
    YUK!

    *ujungnya ga enak buat para suami nih mehehehe

Leave a Reply

Required fields are marked*