Tulisan

Penyesalan Seumur Hidup

sometimes-you-never-know-how-much-you-love-someone-until-theyre-gone

Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini memang sudah kehendak Allah. Hidup, mati, lahir, jodoh, semuanya sudah dituliskan jauh sebelum manusia terlahir ke dunia. Adapun yang manusia bisa lakukan hanya berusaha, dan berdoa.

Sudah 5 tahun lebih, ayah saya wafat. Saya masih ingat betul kejadiannya. Saat itu ayah saya memang sudah sering keluar masuk Rumah Sakit untuk dirawat inap, karena penyakit Diabetes beliau yang sudah parah. Sebenarnya ketika terakhir Ayah saya masuk RS lagi, saya tidak menaruh firasat apa-apa, karena saya meyakini beliau akan pulang lagi ke rumah dan berkumpul bersama keluarga lagi, seperti biasanya.

Tapi ternyata, beberapa hari berikutnya saya dan saudara saya dihubungi kalau Ayah saya meninggal dunia. Saya kaget, dan tidak kuasa menahan tangis. Bagaimana mungkin? Sepanjang jalan menuju RS saya menangis bersama saudara-saudara saya. Masih belum menerima keadaan.

Ketika saya berjalan ke ruangan Ayah saya, disana sudah ada Ibu saya yang sedang menangis, dan Ayah saya yang sudah terbujur kaku di ranjang RS. Tubuhnya sudah dingin. Jantungnya sudah tidak berdetak. Saya memeluk ayah saya sambil menangis. Disana kemudian munculah penyesalan-penyesalan saya selama ini.

sometimes, you never know how much you love someone, until they’re gone…

Saya termasuk anak yang kurang dekat sekali dengan orangtuanya. Kurang dekat dalam artian, jarang sekali berbicara dengan mereka tentang kehidupan di sekolah, di kampus, maupun masalah tentang naksir cowok. Saya lebih suka bercerita kepada teman-teman saja. Ada masa-masa dimana saya ngerasa orangtua ga perlu lah tau masalah anak muda kaya beginian, karena mereka kolot. Yap. Begitulah. Masa-masa abege labil yang sudah seperti kita ketahui. Masa-masa ngerasa paling oke dan paling benar sendiri.

Sampai suatu ketika Ayah saya agaknya ingin mendengar putrinya bercerita padanya. Saya diminta duduk di sebelahnya dan bercerita, tentang bagaimana hari pertama perkuliahan anaknya. Dengan malas-malasan, saya menceritakan bagaimana hari pertama kuliah saya yang biasa saja, tidak ada yang istimewa. Ayah saya tersenyum, walau dari raut wajahnya sepertinya beliau kurang puas mendengarnya. Sepertinya beliau ingin mendengar putrinya berbicara banyak mengenai hari pertama kuliahnya. Beliau ingin berbagi pengalaman atau sekedar menasehati putrinya tentang kuliah, namun tidak jadi karena reaksi anaknya yang kurang bersahabat. Saya pun berlalu ke kamar dengan santai.

…Atau ketika Beliau ingin berfoto dengan saya di suatu ketika. Sambil malas-malasan, saya tersenyum ke arah kamera, kemudian berlalu dari situ. Ah andai saya bisa putar ulang adegan itu, rasanya saya akan menangis karena menyesal. Jangankan berfoto, memeluknya pun mungkin hampir tidak pernah.

Ketika kini beliau sudah tiada, yang tersisa hanya penyesalan. Menyesal karena tidak sempat membahagiakan beliau, tidak berbicara lebih banyak lagi dengannya, tidak meminta pendapatnya tentang suatu permasalahan yang sedang dihadapi, tidak sempat berfoto lebih banyak lagi dengannya, tidak sempat merawatnya ketika beliau sudah sakit-sakitan.

Sering saya menjumpai beliau dalam mimpi. Di dalam mimpi itu saya bercerita banyak padanya, saya memeluknya dengan rasa sayang, saya melakukan semuanya yang jarang saya lakukan pada beliau semasa hidup. Dalam mimpi itu saya bahagia sekali. Seperti sangat rindu pada beliau. Beliau pun terlihat bahagia.

semoga selalu bahagia ya, pih. 

Menyesalpun kini tiada berguna. Yang beliau butuhkan saat ini bukanlah penyesalan putrinya, namun doa dan amal baik anak-anaknya yang selamanya tidak akan terputus.

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

Artinya : “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku di masa kecil.”

Bersyukur memiliki suami yang luar biasa baik pada istrinya, juga anaknya. Yang tidak pernah mengeluh capek, walau pekerjaan di kantornya sedang banyak. Yang selalu menampakkan wajah ceria sepulang kerjanya yang melelahkan. Yang bekerja keras menjemput rejeki untuk anak dan istrinya. Ternyata tidak mudah ya menjalaninya. Saya baru mengerti peran seorang Ayah dalam keluarga itu sangat luar biasa, setelah menikah dan punya anak. Melindungi, menyayangi, menjadi sahabat dan teladan bagi keluarganya, Walaupun telat menyadari, namun kini saya mengerti, bahwa Ayah saya adalah Pria yang sangat hebat. Saya hanya terlambat mengenalnya.

Cherish those you have in your life, because you never know when they won’t be there anymore

 

4 Comments

  1. Halo, salam kenal mba Sarshabrina 🙂

    Sayapun baru merasakan hal yang sama ketika ayah meninggal akhir juni lalu. Sedih dan penyesalannya memang luar biasa banget :(. Kalo udah gini yang bisa dilakukan hanya doa.

    (selamat datang di 1minggu1cerita)

    1. Sarah

      ikut sedih mbak 🙁
      iyaaa yang dibutuhkan sekarang hanya doa
      walau udah 5 tahun, tapi masih suka nangis kalo inget hehe
      trima kasihh.. senang bisa berkenalan dgn banyak teman di 1minggu1cerita

  2. Terharu… saya juga tipe yg kurang bisa curhat sama ortu. tapi, sekarang lagi berusaha lebih banyak ngobrol sama mereka selagi masih ada…

    Salam kenal, Mbak 🙂

    1. Sarah

      hehe iyaa.. rasanya ingin mengulang saat-saat mereka masih ada
      butuh banget diskusi, apalagi skrg sudah menikah dan punya anak 🙁

      salam kenal juga mbak, makasih udah berkunjung 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked*