Catatan, Parenting

Cerita Pengalaman Kuret

Sebenarnya udah pernah di tulis disini, cuma kepengen nulis lagi secara khusus bagaimana pengalaman saya di kuret Maret lalu. Kuretase atau Kuret merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan atau sisa jaringan dari dalam rahim. Berikut saya tuliskan bagaimana cerita pengalaman kuret saya, yang tidak pernah diinginkan.

Ketika saya dinyatakan positif hamil, perasaan saya campur aduk karena masih menyusui Bia. hingga akhirnya dibuatlah keputusan untuk menghentikan proses menyusui kepada anak saya, karena dokter saya meyuruh untuk berhenti, karena takut berpengaruh terhadap janin. Hingga suatu hari, ketika saya check up lagi ke dokter pilihan saya, dokter heran ketika memeriksa janin melalui USG, karena tidak terdapat denyut jantung si calon bayi. Serasa dibogem lah saya saat itu, berarti janinnya sudah tidak ada ya, dok?

Rasanya deg-degan banget begitu Dokter menyarankan saya untuk mengonsumsi obat pendarahan jika sampai terjadi –keguguran– secara spontan. Memang sih setiap hari saya mengalami flek darah terus, walau tidak banyak, dan sempat merasakan sakit ngilu di sekitar rahim. Tapi saya takut jika sewaktu-waktu janin keluar tanpa sempat saya lari ke RS. Perasaan saya benar-benar down banget. Suami saya menenangkan, walau mungkin sebenarnya dalam hatinya juga bak teriris. Jika janin saya benar sudah tidak ada, maka lebih baik saya kuret saja, daripada harus “melahirkan” di kamar mandi. Tapi kemudian kami mencari second opinion ke dokter kandungan lain, yaitu Dr. Elise, di Rumah Sakit (RS) Borromeus Bandung. Mudah-mudahan ada jawaban lain. karena tetap saja USG itu alat yang dibuat oleh manusia, bisa saja hasilnya salah kan?

(Baca : Rekomendasi Dokter Kandungan di Bandung)

Oh tidak. ternyata Dr Elise juga tidak menemukan denyut jantung bayi saya. Alhasil saya dirujuk ke bagian radiologi, untuk pemeriksaan USG yang lebih canggih dan detil. Lagi-lagi saya harus menerima kenyataan pahit kalau ternyata bayi saya sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ya sudah, akhirnya saya dan suami menyerah, pasrah. Saya disarankan untuk di kuret, karena buat apa mempertahankan yang sudah tidak ada? lebih baik dikeluarkan.

Saya mendaftar untuk kuret yang akan dilaksanakan esoknya, jam 7 pagi. Gimana perasaan saya saat itu? Takut! jujur takut banget. walaupun udah pernah merasakan operasi yang lebih besar seperti caesar, tapi tetap saja mendengar kata “operasi” rasanya membuat saya gemetar. Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu? ah segala macam pikiran negatif memenuhi kepala saya. Suami saya menenangkan kembali, mengatakan kalau kuret itu tidak akan sakit. huuuu mas sotoy ah! saya tiba-tiba sebel sama suami saya tanpa alasan. Mungkin karena saking takutnya, saya jadi melampiaskannya ke suami. Maaf ya mas, padaha mas cuma pengen nenangin 🙁

Malamnya saya tidak bisa tidur. Takut. gemetar. Sedih juga. Ya sedihlah, calon bayiku sudah meninggal dan besok mau diambil dari dalam rahim. Malam itu saya googling mengenai pengalaman kuret orang-orang, berusaha mencari pencerahan dan ketenangan. Banyak yang menulis kalau kuret itu sama sekali tidak sakit. Oke, saya jadi tenang. Tapi ada juga saya menemukan kalau kuret itu sakit sekali. Ya Allah ga bisa tidur lagi gueee… gitu aja terus.

Bisa tidur juga sih akhirnya Alhamdulillah, walau cuma sebentar. Dengan perasaan yang masih sama, deg-degan, saya bergegas siap-siap ke RS. Setelah menitipkan Bia ke rumah kakak saya, saya dan suami berangkat ke RS Borromeus. Oh iya, sebelumnya saya diharuskan untuk puasa 8 jam sebelum tindakan kuret. Sebelum melangkah menuju Ruang One Day Surgery (ODS). saya diminta baringan di tempat tidur, setelah sebelumnya berganti pakaian dengan pakaian untuk operasi. huhuhu sedih banget rasanya, apalagi operasinya ga boleh didampingi suami, karena saya memang akan dibius total. Suami saya menenangkan lagi. Makin sedihhhh. Hingga tiba waktunya saya dipanggil untuk datang ke ruangan operasi yang hanya boleh dimasuki oleh perawat, dokter, dan yang berkepentingan lainnya. deg degan bukan main cuy!

Ruangannya familiar. Saya jadi ingat ketika operasi caesar 2 tahun yang lalu. Saya menarik nafas panjang, sampai akhirnya saya berbaring di tempat tidur untuk segera dibedah. Disaat-saat gini saya hanya bisa berdoa saja. Takut banget, masalahnya saya akan dibius total. saya takut ga bisa bangun lagi setelah itu…. ah sudahlah pasrah saja. Dokter anestesi pun datang. ia menyuntikkan jarum di tangan kiri saya. sakiittttt….

“dok… sakit dok.” kata saya lemah.

“dimana yang sakit?” tanya dokternya.

“di……………….” setelah itu saya ga ingat apa lagi yang terjadi.

Bangun-bangun saya sudah berada di ruang pemulihan. mata saya beraatttt sekali. Pernah lihat adegan orang baru tersadar setelah pingsan di sinetron atau drama? yup begitulah saya saat itu. lirik kiri kanan. merem lagi. lihat kiri lihat kanan. merem lagi. berat banget matanya. rasanya kaya ngantuk banget. Akhirnya dengan suara yg lemah, saya tanya suster yang kebetulan sedang melewat. Ini udah sus? kok cepet banget? mana janinnya?

kemudian suster membawakan saya toples kecil bening berisi air yang berwarna merah. terlihat jaringan-jaringan yang mengambang. sedih rasanya. itu janin saya. Kata suster kalau dikuret biasanya janinnya bentuknya sudah tidak akan utuh lagi. Hmm.

(Baca : Bia-Led-Weaning)

eh btw, kok ga sakit sama sekali yah? beneran lho, prosesnya pun ga kerasa, karena saya dibius total. Kakipun dengan mudah dapat digerakkan, dan Alhamdulillah ya Allah bersyukurrrr kaga perlu di kateter. yang bikin operasi caesar kemaren ngeri itu salah satunya karena harus dipasang kateter, dan itu ngilu bukan main.

Harga kuret di RS Borromeus kurang lebih totalnya 4 juta rupiah, dan siangnya bisa langsung pulang tanpa menggunakan kursi roda. Pokoknya seperti tidak ada yang terjadi deh. Saya pulang bersama suami dengan berjalan tanpa tertatih-tatih, berbeda ketika operasi dahulu. Jaringan ditinggalkan di RS untuk diperiksa ke Laboratorium. Rasa sakit memang tidak ada, tapi sedihnya itu lho… kasian lihat suami. Selama 10 minggu kehamilan ini suami sudah berkorban banyak sekali. Ah ya sudahlah, memang belum rejeki.

Jadi kesimpulannya, selagi hamil, pikiran dan fisik harus benar-benar dijaga. ga boleh stres. ga boleh mikir macem-macem. Terlepas dari apa penyebab keguguran, pikiran yang negatif membawa pengaruh buruk bagi janin yang sedang dikandung. Ibu hamil harus happy terus pokoknya! 🙂

Dan untuk kamu yang membaca ini karena cemas dan khawatir akan operasi kuret, SEMANGAT! operasi kuret tidak semenyeramkan yang kamu pikirkan kok. Jaman dulu mungkin sakit sekali, tapi sekarang dengan peralatan kedokteran yang semakin canggih dan modern, kamu tidak akan merasakan sakit sedikitpun. Walau secara fisik kamu tidak merasa sakit, namun saya yakin mentally kamu pasti sangat down dan tercabik-cabik. Tetaplah semangat dan berusaha! you’re not alone! saya pun merasakan hal yang sama. Namun yakinlah jika rencana Tuhan itu selalu indah. Semoga setelah hujan yang deras ini akan ada pelangi yang menyejukkan mata dan jiwa. Yakinlah jika peristiwa keguguran ini bukanlah akhir dari segalanya! 🙂

photo cr : vemale.com

2 Comments

  1. Semoga lekas dipercayakan hamil lagi y mba 🙂 betul banget mesti jaga kesehatan dan fikiran mesti Hepi gitu mba ^^

    1. aamiin.. terima kasih 🙂
      iya selama hamil harus dijaga banget pikirannya
      ternyata sangat berpengaruh ke janin 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked*