Tulisan

Belajar dari seorang Asisten Rumah Tangga

Pernah ga sih kita ngerasa bosen banget sama suatu masakan. Misalkan tiap hari dimasakinnya itu ituuuu aja. Tak jarang kita ngeluh, ngedumel, dongkol. Atau ga pernah ga sih kita ngerasa males banget makan

, karena menu makanan di rumah yang dimakasin si Ibu ga enak. itu itu aja. bosen. pengen yang lain. agak mewahan dikit, kek.

Ah tak perlulah saya bertanya pada siapapun, karena saya pun demikian. Dulu sebelum menikah, sewaktu saya masih tinggal dengan orangtua, yang mana makanan masih dimasakin sama Ibu atau Asisten Rumah Tangga (ART), saya suka sebel karena masakannya tiap hari itu itu aja. Dimasakin menu yang lain, masih ngedumel juga. ga enak, katanya. ga suka.

Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa beruntung sekali kita karena memiliki pilihan makanan setiap hari nya. Maksudnya? iya, setiap hari menu masakan berganti-ganti. Hari senin masak ikan goreng, besoknya ayam goreng, besoknya lagi pepes tahu, tempe, dan lain sebagainya. ih tapi kan ga enak, itu itu aja masakannya. iya sih. ga enak yah? enak itu kalau makan di restoran, kita bisa pilih makanan apapun yang kita suka, dan tidak perlu meragukan rasanya, karena sudah pasti enak! yum!

tapi bukan itu yang saya mau bahas.

Saya punya seorang ART di rumah yang bekerja setiap hari. Baik banget, dan kerjanya juga cepet. Pokoknya si Bibi (panggilan kami ke ART) ini cekatan lah, walau rumahnya sebenarnya jauh sekali dari rumah saya. Dengan menempuh jarak kurang lebih 30 km, Bibi ini pulang pergi dari rumahnya ke rumah saya, setiap hari. Untuk mencari uang. Mungkin untuk membantu suaminya menghidupi anak-anaknya.

Suatu hari, saya masak bubur kacang ijo untuk cemilan Bia dan suami. saya ini sering sekali gagal bikin bubur kacang ijo, entah karena kacangnya kurang empuk lah, santannya hancur lah, rasanya ga enak lah, dan lain-lain. tapi untungnya Bia selalu suka bubur kacang ijo yang saya masak, mau itu enak atau ga enak hahaha. Nah keesokan pagi nya, saya mau nyuapin Bia bubur kacang ijo lagi. Tapi meringis lah saya, ketika melihat bubur kacang ijo yang saya masak kemarin ternyata sudah tidak enak. sudah tidak bisa dimakan. sudah basi. Huh! pasti karena kemaren telat dimasukkan ke kulkas! saya pun kesal sendiri. padahal masih banyak, sayang sekali. Saya pun meletakkannya di tempat piring kotor, untuk dibuang oleh Bibi.

Siang harinya, saya membuka kulkas, dan melihat kresek di freezer. saya buka kresek itu, karena saya tidak ingat meletakkan makanan yang dibungkus kresek tersebut di freezer. Kagetlah saya ketika ternyata kresek itu berisi kacang ijo yang sudah basi tadi pagi! saya pun bingung. Kemudian memanggil bibi. karena jika bukan saya, maka Bibi lah yang memasukkan kacang ijo basi ini di freezer. tapi untuk apa?

“iya bu kacang ijo nya mau saya bawa pulang.” jawab Bibi sambil malu.

“lho, kan sudah basi, bi. sudah ga bisa dimakan.” saya masih tidak mengerti.

“masih bisa, bu. tadi kacang ijo nya sudah saya cuci. masih bisa dimakan.”

Saya masih takjub mendengar jawaban si Bibi. yaa Allah itu bubur kacang ijo udah basi banget biiii… kok malah dicuci dan dibawa pulang untuk dimakan? saya ga habis pikir. Tapi kemudian saya merasa iba.

betapa makanan yang sudah kita anggap tidak layak, ternyata masih ada yang membutuhkan. untuk keluarganya di rumah.

Saya lalu teringat. setiap hari selalu saja ada makanan yang terbuang. padahal kalau dicicip lagi sebenarnya masih bisa dimakan, hanya saja saya dan suami merasa sudah kenyang, sehingga makanan pun terpaksa harus dibuang. Jahat sekali alasannya, ya? Bagaimana dengan keluarga si Bibi yah? kacang ijo sudah basi saja masih bisa dibawa pulang untuk disantap keluarganya. Bibi mungkin sebagian kecil contoh dari masyarakat menengah kebawah yang untuk makan sehari-hari saja butuh usaha ekstra keras. Apapun makanan yang ada di rumah, disyukuri dan dinikmati. karena memang mungkin tidak punya pilihan lain. Jangankan makan di restoran, untuk makan sehari-hari saja mereka mungkin tidak punya banyak pilihan.

Bibi juga meminta ijin untuk membawa pulang sisa-sisa minyak yang sudah tidak terpakai lagi oleh saya, alias minyak jelantah. Walaupun minyaknya sudah berwarna cokelat kehitaman, tetap saja dibawa pulang, dengan dimasukkan ke botol Aqua yang sudah dibawanya dari rumah, atau sekedar mengumpulkan botol-botol Aqua yang sudah kosong dan tidak terpakai lagi. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, minyak jelantah itu ga sehat banget yah? ya mungkin mereka juga sudah tahu. Ah tapi mau bagaimana lagi. Minyak mahal, kalau beli. Yang terpenting perut keluarganya kenyang. soal kesehatan? entah nomor berapa bagi mereka.

Bibi pernah bercerita, kalau suaminya, yang pekerjaannya adalah supir pribadi di sebuah rumah, itu sabar sekali. Ia seringkali dimarahi oleh majikannya. Hingga pernah majikannya mencacinya dengan sebutan dasar orang miskin! Tapi suaminya tetap bertahan, dan bekerja dengan majikannya. Karena jika ia marah dan keluar, maka ia tidak bisa membawa pulang uang untuk anak-anaknya. Dan mencari pekerjaan di tempat lain itu tidak semudah yang dibayangkan.

Mendengar itu rasanya sedih sekali. Betapa seorang Ayah dan Ibu akan selalu berusaha keras untuk menghidupi anak-anaknya. Berkorban untuk anak-anaknya. Mencari nafkah untuk bisa membelikan kebutuhan anak-anaknya. keluarganya. Pernah kan kita mendengar, anak dari seorang tukang becak lulus kuliah dan menjadi sarjana di perguruan tinggi. kalau kita berpikir, kok bisa yah? dengan penghasilan tukang becak yang tidak seberapa, anaknya bisa lulus perguruan tinggi. dan banyak lagi contohnya. Anak-anak yang berhasil dari orang tua yang penghasilannya jauh dari mapan.

Mungkin tidak kita sadari, orangtua kita juga berkorban banyak untuk kebahagiaan dan kesuksesan kita.

Ah banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari Bibi, seorang Asisten Rumah Tangga. Ia mengajarkan kami untuk lebih bersyukur lagi dalam hidup. Miskin atau Kaya adalah sama-sama bentuk ujian dari Allah. Orang Miskin diuji untuk bisa bersabar, ikhlas, dan berikhtiar, sementara orang kaya diuji untuk bisa bersyukur, dan qonaah (merasa cukup) atas segala rizki yang diberikan. sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya :

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35).

tak lupa berterima kasih kepada orang tua yang telah susah payah membesarkan anak-anaknya hingga sekarang. Setelah menjadi orangtua, saya sadar, betapa saya dulu sangat merepotkan orang tua saya, sebagaimana sekarang saya yang gantian di repotkan oleh anak saya. Namun saya tetap mencintai anak saya sampai kapanpun. Saya selalu ingin membahagiakan anak saya. Melihat senyum mengembang di bibirnya setelah dibelikan balon seharga Rp 10.000,-. Mendengar ia bersendawa keras karena kekenyangan makan. Ataupun melihat ia tertidur pulas setelah ia lelah bermain seharian. Adalah salah satu kebahagiaan tersendiri bagi seorang Ibu. Ayah. Orang tua.

photo cr : papasemar.com

Leave a Reply

Required fields are marked*