maaf lahir batin - catatanbundabia
Tulisan

Dimaafkan lahir batin, benarkah…?

“hey mumpung lebaran, Minal Aidin wal Faidzin dulu ya guyss, mohon maaf lahir batin!” seru seseorang sambil bersalaman dengan teman-temannya disaat Lebaran tiba. Sebenarnya tidak ada yang aneh, karena memang ucapan itu sangat biasa terlontar ketika Lebaran tiba. Ucapan untuk memohon dimaafkan kesalahan dirinya lahir dan batin. Namun jika dibaca lagi, sebenarnya arti dari Minal Aidin wal Faidzin itu secara harfiah bukanlah meminta maaf, melainkan; …termasuk orang-orang yang kembali dan menang. Lah ga nyambung dong? sebenarnya ucapan ini lengkapnya adalah Ja alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faidzin (artinya : semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung) yang entah mengapa kita malah memotong kalimatnya menjadi Minal Aidin wal Faidzin saja. Maka dari itu sebenarnya kalimat minal aidin wal faidzin kurang tepat jika diucapkan untuk meminta maaf kepada seseorang, karena artinya jauh dari kata permintaan maaf. Ada baiknya yah kita mengikuti tuntunan Baginda Rosul kita saja, yakni mengucapkan taqobalallahu mina wa minkum shiyaamana wa shiyaamakum artinya : “Semoga Allah menerima amal-amal kami dan kamu, Puasa kami dan kamu, ketika Hari Raya Idul Fitri tiba. Apalagi yang parahnya kini sebagian masyarakat malah makin menyingkat kalimat minal aidin wal faidzin menjadi minal minul, atau minal aidin saja. Waduhhh…. ngikut yang diajarin Rasul aja yuk?!

Ketika Idul Fitri tiba, biasanya orang-orang saling bermaaf-maafan satu sama lain, karena manusia memang tidak luput dari kesalahan. Semuanya pasti pernah punya salah. Namun, benarkah kita sudah memaafkan? benarkah kita sudah tidak mengingat-ngingat lagi kesalahan orang lain?

Saya jadi teringat kisah pada jaman Rasulullah. Ketika Rasul sedang berkumpul bersama sahabat-sahabatnya, Saat itu Rasulullah sedang memberikan tausyiah, tiba-tiba Rasul berucap “sebentar lagi kalian akan melihat pemuda ahli surga.” Tak lama kemudian datanglah seorang pemuda yang penampilannya sederhana. Di lain kesempatan, ketika Rasul sedang berkumpul bersama para sahabat, Rasul kembali berucap, “sebentar lagi kalian akan melihat pemuda ahli surga.” kemudian datanglah pemuda yang sama. Bahkan sampai ketiga kalinya Rasul mengatakan bahwa pemuda itu adalah Ahli surga. Sahabat lain kemudian penasaran, amal apakah yang dikerjakan si pemuda sederhana itu sampai-sampai Rasulullah mengatakan bahwa dia adalah Ahli Surga.

Rasa penasaran inipun mengantarkan Sahabat Rasul tersebut ke rumah si pemuda yang disebutkan Ahli Surga. Ia berkata kalau ia sedang bermasalah dengan ayahnya dan tidak akan menemui ayahnya hingga 3 hari ke depan. Kemudian ia meminta ijin pada si pemuda untuk dapat menginap di rumahnya selama 3 malam. Pemuda itu mengijinkannya.

Selama menginap di rumahnya, Sahabat Rasul tersebut memperhatikan gerak-gerik si pemuda ahli surga. Dan ia pun tidak menemukan amalan yang istimewa dikerjakan si pemuda itu. Malah si pemuda itu tidak melaksanakan shalat tahajjud di malam harinya. Ia beranggapan masih banyak sahabat-sahabat lain yang ibadahnya lebih unggul dari segi kuantitasnya daripada si pemuda tersebut.

Hari Ketiga, akhirnya sahabat berkata jujur bahwa sebenarnya ia tidak sedang bermasalah dengan orangtuanya, ia hanya ingin tahu amalan istimewa apa yang dikerjakan pemuda itu hingga Rasulullah menyebutnya Ahli Surga. Pemuda itu menjawab tidak ada. Ia hanya beribadah sebagaimana yang telah diwajibkan. Sahabat Rasul pun akhirnya pamit pulang dengan perasaan kecewa. Namun tak lama kemudian sang pemuda itu pun berkata lagi,

“Setiap malam menjelang tidur aku tak pernah mengingat-ingat kesalahan kaum muslimin yang lainnya. Aku memaafkan dan mengikhlaskan kekeliruan-kekeliruan mereka padaku. Aku tak pernah menyimpan dendam kepada saudara-saudara muslim.”

Tercenganglah Sahabat Rasul mendengarnya. Ini dia jawaban yang membuatnya penasaran. Ternyata itulah amalan unggul pemuda tersebut yang dapat memasukkannya ke surga. yaitu dengan memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan-kesalahan orang lain setiap akan tidur. Masya Allah.

Terdengar sangat sederhana yah? Namun sulit sekali dilakukan. Dalam hidup ini, berapa kali kita pernah tersinggung, sakit hati terhadap orang lain? Dan ikhlaskah kita jika harus memaafkan mereka, tanpa menyimpan dendam sama sekali? Mampukah kita untuk tidak mengingat-ngingat lagi kesalahan yang pernah dilakukan mereka?

Karena itu, marilah kita saling memaafkan, karena manusia memang tidak pernah luput dari kesalahan.

Selamat Idul Fitri.

cerita lebaran - catatanbundabia
photo cr : faithprayer.org

Leave a Reply

Required fields are marked*