Tulisan

Ceritaku menikah dengan orang Jawa

maxresdefault

Menikah dengan seseorang yang berlatar bahasa dan budaya yang berbeda memiliki tantangan tersendiri. Saya lahir dari keluarga 100% Sunda. Tapi biar begitu, jangan pernah bertanya apa saya bisa Bahasa Sunda atau tidak, karena jawabannya adalah……….  *jeng jeng jeeeeng*… tidak. huhuhu. Bahasa Sunda saya pelajari banyaknya di sekolah, yang sudah terkontaminasi dengan Bahasa yang kasar. Di rumahpun banyaknya menggunakan Bahasa Indonesia, jadi otomatis saya menyerah jika harus berbicara Bahasa Sunda yang halus. Lagipula saya besar dan tinggal di Kota besar di Jawa Barat, yang mana orang-orangnya sudah banyak yang tidak menggunakan Bahasa daerah.

Suami saya orang Jawa tulen, yang sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Jawa dengan saudara dan teman-temannya. Suami saya kalau ngomong halus, sopan, pokoknya beda banget sama saya, yang kalau ngomong seringnya pake Sunda kasar, dan nada suara yang keras huhuhu. Tapi walau begitu, suami saya menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan saya setiap harinya.

Masalah datang adalah ketika saya harus pulang ke kampung suami alias mudik. Waktu sehabis menikah, saya mudik ke tempat suami, di Jawa Tengah. Disana saya harus bersalaman juga dengan orang-orang tetangga-tetangga sekitar. Lalu mereka kemudian berbicara pada saya dengan Bahasa Jawa, lalu saya “hah?” Oh no. jangankan Bahasa Jawa, ditanya Bahasa Sunda halus pun saya ga bisa. jadi saya cuma tersenyum saja seolah mengerti, padahal dalam hati “maap bu, saya ga ngerti ibu ngomong apa.” trus ngibrit. Lagipula saya takut salah menjawab. Yang menurut saya paling sedih adalah saat mbah putri suami mengajak bicara pada saya, karena mbah putri tidak terlalu bisa Bahasa Indonesia, jadi saya cuma bisa ngomong “nggih mbah, nggih.” trus mbah putrinya bingung. mbahnya nanya apa kok jawabnya nggih nggih. saya cuma bisa senyum, sambil ngasih kode ke suami, “help me, mas.”

Bahasa masih menjadi masalah utama buat saya huhuhu. Udah 2,5 tahun pernikahan, saya masih belum bisa aja ngomong Bahasa suami. Sebenarnya kalau dipaksain mungkin bisa, lebih karena saya takut kalau salah ucap aja sih. Sama seperti Sunda, Bahasa Jawa juga ada undak usuk nya (tingkatannya). Ada yang halus, ada bahasa yang biasa digunakan untuk sepantaran, pun ada yang kasar. Nah ini yang bikin saya diem aja deh atau pakai bahasa Indonesia aja deh, daripada salah ngomong malah jadi bahasa kasar.

Dry-Gudeg-1
(www.yogyakartatours.com)

Bukan soal bahasa saja yang beda, kulinernya pun beda. Jika di Sunda banyaknya nasi timbel, nasi tutug oncom, sayur asem, lalapan, dan lain-lain, di Jawa Tengah banyaknya soto, tempe bacem, gudeg, sate, dan banyak lagi. Enak-enak sih, tapi mungkin karena lidah saya yang tidak biasa makan masakan yang manis-manis, saya kurang menggemari. Di Jawa, kebanyakan kuliner banyak meggunakan citarasa manis. Duh ini adalah tantangan untuk saya, sampai sekarang. Saya belum menyukai masakan Jawa, karena itu tadi, saya tidak terbiasa mencicip masakan yang manis-manis. Bagi saya manis-manis hanya untuk kue-kue, sementara kalau untuk lauk nasi? hmm no no no. Makanya sebenernya saya ga enaaaak banget tiap ditawarin sama suami dan ibu & bapak mertua. huhuhu maap ya pak, bu. maklum, kalau di Sunda banyaknya masakan asin-asin. Tapi belum menyukai bukan berarti tidak akan menyukai lho hehe.

kampung-daun
www.tripadvisor.ca

Di Jawa Tengah juga ada suatu kebiasaan tiap harinya; yaitu minum teh manis. Setiap pagi, ibu mertua selalu menyiapkan teh manis yang dimasak di teko kecil untuk semua anggota keluarganya. Jika di Jawa Barat, kebanyakan orang menyajikan teh tanpa gula/tawar, maka lain hal di Jawa Tengah, teh disajikan dengan manis, malah terkadang sangat manis. hihi. saya (seperti biasa) tidak terbiasa dengan hal itu. Jadi sayalah satu-satunya orang yang tidak minum teh manis di rumah. Ini mah bicara soal kebiasaan saja sih. Ada orang yang mengawali pagi dengan secangkir kopi pahit, ada yang dengan segelas jus, ada yang dengan segelas teh tawar  atau teh manis. Kalau saya sih termasuknya yang cuma minum air putih saja hehe. Tapi saya juga sesekali senang minum teh manis bersama suami.

Begitulah cerita saya bersuamikan orang Jawa. hahaha. Walaupun kelihatannya berbeda, namun sebenarnya ada kemiripan satu sama lain. Seperti ada banyak persamaan kata-katanya, seperti sare, serat, dahar, telu/tilu, endog, dan lain-lain. Artinya sama, namun beda tingkatan bahasa. Di Sunda, jika ada panggilan dari seseorang, atau ada sesuatu yang kurang jelas didengar, maka seseorang akan menjawab : kah?/kulan?, sementara kalau di Jawa : dalem?. Jika di Sunda menjawab muhun, maka di Jawa menjawabnya dengan inggih. Berada di lingkungan yang berbeda, justru membuat saya semakin mengenali lingkungan saya berasal.

ah pokoknya, aku tresno karo kowe, mas! 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked*