Tulisan

Belajar untuk tidak mengeluh, yuk!

pexels-photo-72473-large

Beberapa hari yang lalu, saya membaca status fb teman saya, yang bercerita kalau dia ingin segera punya anak. Memang usia pernikahannya baru sekitar 1,5 thn, namun mungkin baginya usia pernikahannya sudah cukup lama untuk menanti diberikan keturunan oleh Sang Kuasa. Di lain cerita malah ada kenalan saya juga yang usia pernikahannya bahkan sudah jauh lebih lama dari saya, namun belum juga diberikan keturunan. Melihat hal itu membuat saya kadang malu, malu jika tidak bersyukur. 

Kemudian di hari yang sama saya juga membaca postingan teman saya di sosial media, yang bercerita kalau dia baru saja menjadi ibu baru. yang membuat saya gemas adalah, dia “mengeluh”, mengeluh karena sekarang setelah sudah punya anak, keadaan sudah tidak bisa lagi seperti dulu. tidur sudah tidak bisa seperti dulu. istirahat pun hanya bisa sebentar, melakukan aktivitas apapun sudah tidak bisa seperti dulu, sebelum punya anak. Memang wajar, saya pun begitu. Setelah melahirkan, saya syok karena ternyata berbeda sekali. Bayangkan tengah malam kita sedang enak-enaknya tidur, harus dibangunkan oleh si anak yang haus minta nyusu, atau si anak yang terbangun dan tidak bisa tidur lagi, jadi si ibu harus begadang. Memang banyak faktor yang menyebabkan si ibu “mengeluh”. Jangan salah, sampai sekarang pun saya masih sering mengeluh. Sudah seperti kebiasaan. Padahal mengeluh adalah cara orang lemah dalam mengasihani diri sendiri.

Lalu apa itu salah?

saya tidak bisa menjawab, mungkin salah. Mengeluh adalah tanda tidak bersyukur pada nikmat yang diberikan Allah. teorinya sih saya tau, tapi pelaksanaannya tidak sejalan. Namun jika berkaca dari teman-teman yang tidak seberuntung saya, saya pun malu. Mungkin ada banyak sekali perempuan yang ingin seperti saya. Mungkin ada banyak sekali perempuan yang mendambakan keturunan, yang ingin merasakan sakitnya melahirkan normal ataupun caesar, yang ingin merasakan memberi ASI Eksklusif untuk anaknya, yang ingin merasakan begadang malam hari untuk mengganti popok atau menyusui, yang ingin mendandani anaknya dengan baju-baju yang lucu, ah mungkin banyak sekali. tapi mungkin ada di antara mereka yang memilih untuk diam dan tidak membiarkan orang lain tahu. Ada juga perempuan di luar sana yang sudah mengeluarkan banyak sekali uang hanya untuk mendapatkan keturunan. Sementara kita? sudah diberi amanat berupa anak, tanpa perlu usaha yang banyak, masih juga mengeluh?

Seringkali suami menyuruh saya untuk tidak mengomel-ngomel dan mengeluh dalam pekerjaan rumah tangga. Banyak sekali nikmat yang Allah berikan pada saya, kenapa saya berpura-pura untuk tidak melihat?

Setelah membaca 2 postingan teman saya itu, saya pun jadi berpikir; Apapun yang Allah berikan, selalu saja ada celah bagi kita untuk mengeluh. Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita untuk senantiasa mensyukuri apapun yang Allah berikan. Dan juga belajar menghargai teman kita yang sekiranya kurang beruntung dari kita.

PS : terima kasih untuk suami tercinta yang menginspirasi saya dalam menulis postingan ini. 

Leave a Reply

Required fields are marked*