Catatan, Parenting

New Life

I’ve never seen you

I’ve never heard your voice

But hey little cutie, you don’t know how much that I love you

Tanggal 24 Juli 2014, saya check up lagi ke dokter. Dokter bilang katanya saya udah masuk pembukaan dua. DEG! Berarti sudah bentar lagi yah? Saya dan suami antara senang dan juga deg-degan. Tapi banyaknya senang sih. Bentar lagi saya akan bertemu anak yang dikirim Allah untuk kami. Tapi ya ternyata masih sungsang posisinya… ya sudah saya pasrah saja untuk operasi Caesar. Walau dalam hati kecil saya, masih ada harapan untuk dapat melahirkan secara normal. Masih menunggu keajaiban. Saya terus saja berdoa. Berdoa. Berdoa. Demi kelancaran.

Tanggal 26 Juli 2014, tepat beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri, tiba waktu saya untuk melahirkan. Usia kehamilan sudah menginjak 39 minggu, sudah aman untuk melahirkan. Sebenarnya begitu menginjak usia 39 minggu pas, saya sempet heran, ini kok belum ada tanda tanda bayinya mau keluar yah? Kok betah banget sih di dalem perut bunda, nak? Hehehe. Tapi hari itu pada siangnya ketika saya bangun dari tidur siang, saya merasa seperti pipis, tapi tidak bisa ditahan. Benar saja! Ternyata air ketuban mengucur deras sampai ke kaki saya. Saya mulai panik. Lalu setelah solat ashar, saya dan suami bergegas ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, kakanda dan Ibu saya yang juga ikut, menemani saya di Ruang Bersalin. Aneh, biasanya kan kalau ketuban sudah merembes kaya gitu, biasanya kontraksi kan? Kalau saya sama sekali engga! Ga ada kontraksi sama sekali. Saya di cek pembukaan oleh suster (duh ini horror banget), dan kata suster saya baru pembukaan dua. HAH? Masih dua?? Bukannya 2 hari yang lalu juga pembukaan dua? Ga nambah-nambah dong. Pembukaannya ga nambah-nambah, tapi ketubannya udah merembes. Saya lalu memantapkan diri untuk menjalani operasi saja. Saya menandatangani form-form persetujuan sebelum operasi. Badan saya lemas sekali begitu membaca resiko terburuk dari operasi ini adalah : kematian. Saya jujur, takut. ingin mundur. Banyak sekali resiko-resikonya, dan itu yang terburuk. Tapi lalu saya berpikir, semua yang kita lakukan juga pasti ada resikonya. Melahirkan normal sekalipun juga ada resikonya. Saya disini hanya harus berpikiran positif, dan yakin semuanya akan baik-baik saja. Akhirnya saya tandatangani form persetujuan operasi tersebut. Oya saat itu saya sedang puasa selama 5-6 jam (kalau tidak salah), karena begitu prosedur sebelum operasi, harus puasa selama beberapa jam. Perut saya dipakaikan alat untuk mengecek detak jantung si bayi, dan juga kontraksinya. Masih, pada saat itu saya tidak merasakan sakit apapun di perut. Semuanya seperti biasa.

Dokter Kandungan saya pun datang, lalu mengobrol-ngobrol santai pada saya sebentar, sebelum akhirnya saya dipanggil untuk operasi. DEG! Jantung saya berdetak tidak karuan. Suami dan Ibu saya mendampingi. Saya kemudian dibawa ke Ruang Operasi. Mau nangis rasanya… hhihihi… saya lihat wajah suami dan ibu saya. Saya tidak tahu mereka sedang memikirkan apa. Tapi wajahnya juga ikut cemas, namun berusaha menenangkan. Saya pegang tangan suami saya, sampai akhirnya harus lepas karena saya harus masuk ke ruang operasi (drama banget yah ini kalimatnya? Huahahhaa). Sebenarnya saya sudah meminta ijin untuk bisa bersama suami saya saat operasi, namun saat itu saya harus berganti baju dulu dan disuntik sana sini hehe. Saya sudah memakai baju operasi. Kemudian ada mbak-mbak suster menyuntik tangan saya (ini sakittt banget huhuhu). Lalu datanglah dokter anestesi (nyanteeeeeiiii banget dokternya) yang bertugas untuk membius saya di sekitar bawah punggung. Duh… mulai deh… 1..2..3… saya sudah tidak merasakan lagi perut dan kaki saya. Seperti beraaaaat sekali kalau diangkat. Sebelum operasi dimulai, suami saya akhirnya masuk, lengkap sudah memakai baju operasi dan masker. Melihat kakanda saya jadi tenang. Saya pegang erat tangannya selama operasi berlangsung. Perut saya seperti diaduk aduk… atas bawah atas bawah kanan kiri… lalu “oeeee…. Oeeee….” Terdengar suara merdu itu..

Saya tidak pernah merasakan perasaan seharu itu. Saya menangis. Menangis bahagia. Suara tangisnya keras sekali. Bayi berwarna merah dengan lemak-lemak putih disekujur tubuhnya itu sudah lahir. Anak yang setiap hari menendang-nendang perut ibunya itu kini sudah lahir ke dunia. Alhamdulillah. Hari itu pun saya lahir menjadi seorang ibu.

Leave a Reply

Required fields are marked*